Oleh: Adista Pattisahusiwa
Konflik India-Pakistan yang kembali memanas pada Mei 2025, dipicu oleh serangan teroris di Pahalgam dan eskalasi militer di sepanjang Garis Kontrol (LoC), adalah pengingat pahit bahwa sengketa Kashmir tetap menjadi luka terbuka di anak benua India.
Setelah 77 tahun, pertumpahan darah, narasi nasionalis, dan distrust antara New Delhi dan Islamabad terus memperpanjang penderitaan, terutama bagi warga sipil di Kashmir.
Situasi ini bukan hanya tragedi regional, tetapi juga ancaman global mengingat status kedua negara sebagai kekuatan nuklir. Saatnya dunia, termasuk India dan Pakistan sendiri, mengambil langkah berani untuk memutus lingkaran setan ini.
Pertama, eskalasi terbaru menunjukkan betapa rapuhnya status quo di Kashmir.
Serangan teroris, seperti yang terjadi di Pahalgam, memicu respons militer keras dari India, yang kemudian dibalas Pakistan dengan serangan balik.
Pola aksi-reaksi ini sudah terlalu familiar di mana serangan teroris, tuduhan sponsor terorisme, serangan lintas batas, gencatan senjata yang rapuh, lalu kembali ke ketegangan.
Tidak ada pihak yang benar-benar “menang” dalam siklus ini. India mungkin merasa berhasil menghukum militan, dan Pakistan mungkin mengklaim kemenangan moral.
Tetapi yang benar-benar kalah adalah warga sipil, baik di Kashmir, Jammu, maupun di seberang garis kontrol (LoC) yang hidup dalam ketakutan, trauma, dan ketidakpastian.
Kedua, perang informasi dan nasionalisme berlebihan memperkeruh masalah.
Klaim India tentang 100 teroris terbunuh dan bantahan Pakistan tentang 31 warga sipil tewas tersebut mencerminkan narasi yang saling bertentangan, lebih ditujukan untuk memuaskan publik domestik daripada mencari solusi.
Di India, serangan Pahalgam memicu kemarahan yang mendorong pemerintah Modi untuk bertindak tegas guna mempertahankan citra kuat.
Sementara di Pakistan, militer memanfaatkan konflik untuk mengalihkan perhatian dari kritik internal.
Media dan politisi di kedua belah pihak pun sering kali memperkuat retorika perang, menutup ruang untuk dialog rasional. Akibatnya, suara-suara yang menyerukan perdamaian, terutama dari warga Kashmir sendiri tenggelam dalam kebisingan nasionalisme.
Ketiga, penggunaan teknologi modern, seperti drone kamikaze, dalam konflik ini menambah dimensi berbahaya. Jika di masa lalu pertempuran di LoC terbatas pada artileri dan tembak-menembak, kini teknologi memungkinkan serangan yang lebih presisi namun juga lebih sulit dikendalikan.
Risiko kesalahan kalkulasi meningkat, terutama ketika kedua negara memiliki senjata nuklir. Dunia tidak boleh melupakan krisis 2019 pasca-serangan Pulwama, ketika ketegangan nyaris mencapai titik kritis.
Dengan eskalasi saat ini, skenario terburuk bukan lagi sekadar hipotesis, melainkan kemungkinan nyata yang harus dicegah.
Namun, di tengah keputusasaan, ada secercah harapan. Gencatan senjata yang diumumkan pada 10 Mei 2025, meskipun cepat dilanggar, menunjukkan bahwa tekanan internasional khususnya dari AS, Arab Saudi, dan lainnya dapat mendorong jeda sementara.
Ini adalah titik awal. India dan Pakistan harus menyadari bahwa solusi militer tidak akan pernah menyelesaikan sengketa Kashmir. Sejarah telah membuktikan bahwa perang hanya melahirkan lebih banyak kebencian dan ketidakstabilan. Dialog adalah satu-satunya jalan ke depan, meskipun sulit.
Untuk itu, beberapa langkah konkret perlu diambil yakni dialog bilateral yang konsisten.
Artinya, India dan Pakistan harus berkomitmen pada pembicaraan damai yang tidak terputus oleh insiden teroris atau pelanggaran gencatan senjata. Dialog ini harus melibatkan semua pemangku kepentingan, termasuk suara dari Kashmir.
Peran Komunitas Internasional
AS, Tiongkok, dan PBB harus memfasilitasi mediasi netral, bukan hanya untuk meredakan ketegangan sementara, tetapi untuk merancang peta jalan jangka panjang menuju resolusi.
Kedua negara harus memprioritaskan perlindungan warga sipil, memastikan akses kemanusiaan, dan menghentikan narasi yang mengglorifikasi kekerasan.
Kontrol Media dan Disinformasi
Pemerintah dan media di kedua belah pihak perlu menahan diri dari menyebarkan propaganda yang memicu kebencian, dan sebaliknya mempromosikan narasi perdamaian.
Pada akhirnya, konflik India-Pakistan bukan hanya tentang Kashmir, tetapi tentang kemauan dua bangsa untuk memilih masa depan yang lebih baik daripada masa lalu yang penuh dendam.
Warga Kashmir, yang telah menderita selama beberapa generasi, berhak atas perdamaian dan martabat. Dunia tidak bisa lagi menutup mata terhadap krisis ini.
Jika tidak ada tindakan berani sekarang, lingkaran setan ini akan terus berputar, dengan konsekuensi yang mungkin tidak dapat diperbaiki.
Perdamaian bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan mendesak untuk India, Pakistan, dan seluruh dunia. ***












