Dinkes Kotim Waspadai Peningkatan Kasus ISPA dan Diare

IST/BERITASAMPIT - Ilustrasi waspada ISPA dan diare saat kemarau.

SAMPIT – Dinas (Dinkes) Kabupaten (Kotim) mencatat sebanyak 14.987 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sepanjang 2026. Meski jumlahnya cukup tinggi, kasus ISPA saat ini masih dinilai dalam kondisi terkendali.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kotim Nugroho Kuncoro Yudho mengatakan jumlah kasus ISPA dari bulan ke bulan relatif stabil, meskipun terdapat sedikit peningkatan.

Menurutnya, kondisi yang justru menjadi perhatian saat ini adalah kasus diare yang menunjukkan tren peningkatan di tengah musim kemarau. Sepanjang 2026, Dinkes Kotim mencatat sebanyak 3.852 kasus diare.

“Kalau ISPA saat ini masih kondisi terkendali. Memang jumlah kasusnya tinggi, tetapi dari bulan ke bulan masih relatif sama, hanya ada sedikit peningkatan. Yang justru diwaspadai sekarang adalah diare karena trennya mulai meningkat dibandingkan beberapa waktu lalu,” ujarnya, Selasa 21 Juli 2026.

Dinkes memetakan sejumlah wilayah yang menjadi perhatian terhadap kasus diare, yakni Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Parenggean, dan Cempaga. Sementara kasus ISPA paling banyak ditemukan di kawasan perkotaan, khususnya Kecamatan Baamang.

Peningkatan kasus diare diduga berkaitan dengan berkurangnya akses air bersih selama musim kemarau. Kondisi ini terutama menjadi perhatian di wilayah selatan Kotim yang setiap tahun menghadapi persoalan ketersediaan air bersih.

Sebagian masyarakat masih mengandalkan tampungan air hujan yang mulai mengering. Di sisi lain, kualitas air sungai juga dapat menurun akibat intrusi air laut sehingga masyarakat perlu lebih memperhatikan kebersihan air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Dinkes mengingatkan masyarakat agar tidak menunda mendapatkan penanganan medis ketika mengalami diare. Terlebih pada bayi dan balita yang lebih rentan mengalami dehidrasi akibat kehilangan cairan tubuh.

“Kalau diare, jangan tunggu sampai lemas. Begitu diare terjadi tiga kali atau lebih, segera ke puskesmas atau fasilitas . Sambil menunggu, segera ganti cairan tubuh dengan oralit atau larutan gula garam agar tidak sampai dehidrasi,” jelasnya.

Dinkes juga mengingatkan masyarakat agar segera membawa anak ke fasilitas apabila mengalami diare dan kondisinya mulai memburuk.

Keterlambatan penanganan dapat menyebabkan dehidrasi berat yang berisiko membahayakan keselamatan penderita.Ketiga berita ini bisa dinaikkan dengan tiga fokus berbeda, kesiapan logistik masker, imbauan kewaspadaan masyarakat, dan data perkembangan penyakit. (Nardi)

baca juga ...  Disdik Apreasiasi Bunda PAUD Kotim Raih Penghargaan Nasional 
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!