PALANGKA RAYA – Pemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sudah menjadi kebutuhan. Hal ini ditegaskan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Muhammad Reza Prabowo, saat menutup kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas Guru dalam Penguasaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) se-Kalteng, yang digelar di Hotel Bahalap, Palangka Raya, Jumat 4 Juni 2025.
Pernyataan tersebut disampaikan Reza sekaligus menanggapi kritik terhadap kebijakan pengadaan TV interaktif di sejumlah sekolah. Ia mengakui sempat menjadi sorotan karena program tersebut dinilai tidak sejalan dengan kondisi infrastruktur pendidikan yang masih belum merata.
“Saya pernah dibully, dihujat karena pengadaan TV interaktif ini. Katanya, sekolah kita masih banyak yang rusak. Tapi saya ingin tegaskan, setiap kebijakan harus berdasarkan data dan kebutuhan,” tegasnya.
Reza menjelaskan, kebijakan pengadaan perangkat teknologi di sekolah dilandasi oleh dua faktor, yakni usulan langsung dari sekolah dan data pokok pendidikan (Dapodik). Berdasarkan data tersebut, jumlah sekolah yang mengalami kerusakan berat tidak mencapai 10 persen. Sementara itu, perbaikan infrastruktur pendidikan terus dilakukan secara bertahap setiap tahun.
“Tahun ini kita mendapatkan dukungan besar dari Menteri. Ada anggaran revitalisasi sekolah untuk 30 sekolah SMA, SMK, dan SKH. Bahkan kita juga mendapatkan unit sekolah baru. Untuk itu, kita ucapkan terima kasih kepada Pak Menteri. Teknologi tidak bisa kita hindari,” ujarnya.
Lebih lanjut, Reza menegaskan bahwa pelaksanaan Bimtek bukan semata-mata bersifat administratif. Menurutnya, guru perlu terus didorong untuk menghadirkan pembelajaran yang inovatif dan menyenangkan, agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara optimal.
“Guru-guru ini bukan hanya sekadar administratif. Mereka bukan hanya dilatih untuk membuat modul, tapi bagaimana menciptakan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan untuk anak-anak kita, sehingga target belajar benar-benar tercapai,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya kesiapan tenaga pendidik dalam menghadapi era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Teknologi, kata dia, tidak untuk ditakuti, melainkan harus disikapi secara bijak dan dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan mutu pendidikan.
“Saya harap dengan adanya teknologi seperti AI, ini bisa membantu tugas kita sebagai guru. AI itu tergantung bagaimana kita menyikapinya. Seperti saat HUT Bhayangkara kemarin, kita lihat polisi sudah menggunakan robot. Ini bukti bahwa perubahan sudah di depan mata,” tambahnya.
(Syauqi)












