PALANGKA RAYA – Kepolisian Daerah (Polda) Kalimantan Tengah (Kalteng) menawarkan beras seharga Rp 12.000 per kilogram dalam Gerakan Pangan Murah (GPM) yang diluncurkan Kamis siang, 14 Agustus 2025.
Harga ini jauh lebih murah dibanding harga pasar yang mencapai Rp 15.000-17.000 per kilogram, atau selisih hingga Rp 5.000 per kilogram.
Program yang diluncurkan serentak di seluruh Indonesia oleh Presiden RI ini diharapkan mampu menekan laju inflasi menjelang peringatan HUT RI ke-80. Di Kalteng, peluncuran dipusatkan di Pos Lantas Bundaran Besar Palangka Raya.
Plt. Sekretaris Daerah Provinsi Kalteng Leonard S. Ampung menyebut GPM sebagai instrumen vital pengendalian inflasi. “Program nasional ini sangat baik untuk menjaga stabilitas harga dan inflasi tetap terjaga,” ujarnya.
Sebanyak 56 ton beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dan minyak goreng akan didistribusikan ke seluruh Kalteng.
Dari jumlah tersebut, 5 ton khusus dialokasikan untuk Kota Palangka Raya, sementara 51 ton sisanya disalurkan melalui polres-polres di 13 kabupaten/kota se-Kalteng.
Dengan asumsi setiap kilogram beras menghemat Rp 3.000-5.000 dibanding harga pasar, total penghematan masyarakat Kalteng bisa mencapai Rp 168 juta-280 juta dari program ini.
“Dengan upaya ini, harga di pasaran tetap stabil dan daya beli masyarakat juga meningkat,” kata Leonard.
Leonard menjelaskan GPM sebagai bentuk intervensi pemerintah untuk memutus mata rantai spekulasi harga yang kerap merugikan konsumen.
Program ini secara khusus menargetkan praktik tengkulak dan spekulan yang mengoplos beras untuk meraup keuntungan berlebihan.
“Ini merupakan bentuk intervensi pemerintah untuk menjaga tengkulak, spekulasi kenaikan harga, termasuk spekulan yang mengoplos beras. Gerakan ini menjadi solusi,” jelasnya.
Koordinasi dengan Perum Bulog juga diperkuat untuk memastikan pasokan beras berkualitas tetap tersedia di pasar dengan harga terjangkau. “Pemerintah harus masuk untuk menjaga stabilitas,” tegasnya.
Program GPM ini tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi diharapkan menciptakan efek multiplier dalam perekonomian daerah.
Dengan harga pangan yang stabil, daya beli masyarakat untuk kebutuhan lain diperkirakan akan meningkat. “Mudah-mudahan kegiatan ini bisa menjaga kestabilan harga beras dan pangan yang ada di pasaran,” harap Leonard.
(Sya'ban)












