PALANGKA RAYA – Musim kemarau menjadi kendala utama distribusi bantuan pangan dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) di Kalimantan Tengah (Kalteng) yang baru mencapai 90 persen. Sisanya 10 persen terhambat akses wilayah terpencil yang hanya bisa dijangkau melalui transportasi sungai.
Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Kalteng Agus Candra menjelaskan kondisi geografis dan musim kemarau menjadi faktor penghambat distribusi bantuan untuk 98.161 keluarga penerima manfaat (KPM) periode Juni-Juli 2025.
“Yang belum tersalurkan itu daerah-daerah yang agak sulit diakses atau harus melewati sungai, karena ini kan musim kemarau,” kata Agus saat ditemui di Bundaran Besar Palangka Raya, Kamis siang, 14 Agustus 2025.
Agus merinci bahwa wilayah-wilayah yang belum terjangkau umumnya berada di daerah pedalaman yang aksesnya mengandalkan transportasi sungai.
Musim kemarau menyebabkan permukaan air sungai turun drastis sehingga menghambat pergerakan perahu dan kapal kecil yang biasa digunakan untuk distribusi.
“Ya sudah hampir tersalurkan semua, paling yang belum tersalurkan itu daerah-daerah yang agak sulit diakses atau harus melewati sungai,” jelasnya.
Kondisi ini memaksa tim distribusi mencari alternatif jalur darat yang memakan waktu lebih lama dan biaya transportasi lebih tinggi.
Berdasarkan data Perum Bulog sebagai pelaksana distribusi, pencapaian 90 persen sudah dinilai cukup baik mengingat tantangan geografis Kalimantan Tengah yang memiliki wilayah luas dengan sebaran penduduk tidak merata.
“Yang mengumpulkan data itu kan Bulog, dari data itu sudah mendekati 90 persen penyalurannya untuk bantuan pangan bulan Juni dan Juli,” ujar Agus.
Setiap KPM berhak mendapat 20 kilogram beras yang dibagi untuk dua bulan, yakni masing-masing 10 kilogram untuk Juni dan Juli 2025. Total bantuan mencapai sekitar 1.963 ton beras untuk seluruh Kalteng.
Untuk mengatasi kendala distribusi, Dinas Ketahanan Pangan berkoordinasi intensif dengan Perum Bulog, Jasa Prima Logistik (JPL), dan aparatur desa. Tim gabungan terus mencari solusi agar bantuan dapat sampai ke seluruh penerima.
“Kami juga bekerja sama dengan Dinas Sosial dan aparatur desa untuk pengawasan dan penyaluran di lapangan,” tambah Agus.
Mekanisme distribusi tetap mengikuti prosedur standar melalui Perum Bulog dan JPL yang bertugas mengangkut beras dari gudang ke titik-titik distribusi yang telah disepakati dengan pemerintah desa.
Meski terkendala faktor alam, Agus memastikan upaya untuk mencapai distribusi 100 persen terus dilakukan. Pihaknya mengoptimalkan jalur alternatif dan memanfaatkan cuaca cerah untuk mempercepat pengiriman ke wilayah terpencil.
Data penerima bantuan tetap mengacu pada Data Tunggal Kesejahteraan Sosial (DT-SKS) Kementerian Sosial yang telah diverifikasi Dinas Sosial untuk memastikan tepat sasaran.
Program bantuan pangan Bapanas ini merupakan komitmen pemerintah menjaga ketahanan pangan dan membantu masyarakat kurang mampu di tengah tantangan ekonomi dan perubahan iklim yang mempengaruhi akses pangan masyarakat.
(Sya'ban)












