JAKARTA— Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Maluku, Alimudin Kolatlena, menyatakan dukungan penuh terhadap seruan Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, yang mengajak masyarakat Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, untuk mengedepankan perdamaian dan menghentikan segala bentuk pertikaian antarwarga.
Menanggapi bentrokan antara masyarakat Desa Kailolo dan Desa Kabauw yang dipicu kasus penganiayaan di wilayah Wainana, Alimudin menegaskan pentingnya menjaga persaudaraan dan harmoni sosial di Maluku.
“Saya sangat prihatin dengan insiden di Pulau Haruku. Sebagai putra daerah, saya mengajak seluruh masyarakat, khususnya di Kailolo dan Kabauw, untuk menahan diri dan menyelesaikan masalah melalui dialog yang konstruktif. Kekerasan bukan solusi, melainkan hanya akan memperdalam luka antarwarga,” ujar Alimudin, Kamis 11 September 2025.
Alimudin juga mengapresiasi langkah cepat Gubernur Hendrik yang menyerukan perdamaian sebagai fondasi utama kehidupan bermasyarakat di Maluku. Ia menambahkan bahwa pihaknya di DPR RI akan mendorong pemerintah pusat untuk memberikan perhatian khusus terhadap upaya mediasi dan penyelesaian konflik di wilayah tersebut.
“Kami akan berkoordinasi dengan aparat keamanan dan pemerintah daerah untuk memastikan situasi di Haruku kembali kondusif,” beber Kolatlena.
Politisi Gerindra ini pun mengimbau seluruh tokoh masyarakat, adat, dan agama di Pulau Haruku untuk bersama-sama menjadi penutup luka dan jembatan perdamaian.
“Maluku dikenal sebagai bumi yang penuh dengan nilai-nilai persaudaraan. Mari kita jaga warisan leluhur ini dengan mengutamakan musyawarah dan saling menghormati,” tegas Alimudin.
Mantan Anggota DPRD Provinsi Maluku ini juga meminta aparat keamanan untuk segera mengusut tuntas kasus penganiayaan yang menjadi pemicu konflik agar keadilan dapat ditegakkan secara transparan.
“Penyelesaian hukum yang adil akan menjadi langkah awal untuk memulihkan kepercayaan antarwarga,” pungkas Alimudin Kolatlena.
Dengan dukungan dari berbagai pihak, Alimudin optimistis situasi di Pulau Haruku dapat segera pulih, dan masyarakat dapat kembali hidup berdampingan dengan damai.
(Adista)












