PALANGKA RAYA – Kepala Regional Badan Gizi Nasional (BGN) Provinsi Kalimantan Tengah, Elisa Agustino, angkat bicara terkait dugaan kasus keracunan makanan bergizi (MBG) yang menimpa 27 siswa sekolah dasar di Palangka Raya beberapa waktu lalu.
Elisa menegaskan bahwa pihaknya tidak membantah peristiwa tersebut, namun meminta masyarakat untuk tidak buru-buru menyimpulkan penyebabnya sebelum hasil laboratorium keluar.
“Terkait dengan adanya hal menonjol (keracunan), mungkin sudah tiga minggu yang lalu ini viral. Kami tidak membantah hal itu terjadi. Kami mendapatkan laporan dan langsung mendatangi sekolah tersebut,” ujar Elisa, Minggu 5 Oktober 2025.
Ia menjelaskan, berdasarkan keterangan kepala satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) dan pihak sekolah, memang benar ada kejadian luar biasa. Namun, Elisa menekankan belum ada bukti kuat bahwa penyebabnya adalah racun.
“Kami belum berani mengatakan itu akibat dari racun atau sejenisnya karena memang belum ada hasil laboratorium. Kalau kita berbicara keracunan, kita harus bisa juga menjelaskan ini keracunan apa? Apakah hanya saus saja, atau ada juga yang lain?” katanya.
Menurut Elisa, menu makan bergizi yang disajikan saat itu berupa burger lengkap dengan roti, sayur, daging, dan kentang. Ia menyebut kesimpulan terkait racun tidak bisa diambil tanpa pemeriksaan laboratorium terhadap masing-masing bahan.
“Kalau mau mengambil kesimpulan bahwa ini sebuah racun, kita harus membuktikan dulu satu per satu kandungannya. Karena tidak ada hasil lab itu, kami menyayangkan kenapa kemarin kejadian itu tidak segera dilaksanakan SOP,” ujarnya.
Elisa juga mengakui ada kelalaian dari petugas lapangan dalam menangani kejadian tersebut. Meski begitu, pihak sekolah disebut cepat tanggap.
“Kami mengakui kelalaian petugas kami. Namun hal itu langsung ditanggapi pihak sekolah dengan memberikan susu, dan petugas kami juga sudah ke sana,” ungkapnya.
Lebih lanjut, BGN Kalteng disebut telah melakukan evaluasi dan pembenahan secara menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang.
“Kami dari BGN melakukan perbaikan secara terus menerus. Setelah kejadian itu, kami langsung menginstruksikan seluruh korwil dan kepala SPPG se-Kalteng untuk memperketat lagi terkait SOP,” jelas Elisa.
Ia menambahkan, program makan bergizi tetap berjalan dan mendapat dukungan dari pihak sekolah serta orang tua siswa meski ada kejadian keracunan tersebut.
“Harapan kami kepada masyarakat Kalteng, tidak usah khawatir. Sekolah itu ketika hari ini kejadian, besok mereka menerima kembali MBG. Tidak ada penolakan dari pihak sekolah dan orang tua. Kami juga selalu berbenah supaya program MBG ini benar-benar berdampak signifikan bagi kesehatan anak-anak,” pungkasnya.
(Syauqi)












