PALANGKA RAYA – Tingkat literasi masyarakat Kalimantan Tengah (Kalteng) menunjukkan tren positif. Berdasarkan hasil pengukuran Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Tahun 2025, Provinsi Kalteng mencatat skor 72,94 dengan kategori sedang, meningkat dibandingkan capaian tahun sebelumnya sebesar 68,64.
Data ini dirilis oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispursip) Provinsi Kalimantan Tengah, yang menilai peningkatan tersebut sebagai bukti nyata dari berbagai upaya peningkatan literasi di seluruh daerah.
Kepala Dispursip Proivnsi Kalteng, Adiah Chandra Sari, menyebut IPLM merupakan instrumen penting untuk melihat sejauh mana masyarakat telah berkembang dalam budaya membaca, mengakses informasi, serta berpartisipasi aktif dalam kegiatan literasi.
“Dengan adanya indeks ini, pemerintah daerah dapat menilai efektivitas program literasi yang telah dijalankan serta menentukan arah kebijakan yang lebih tepat untuk meningkatkan minat baca dan kualitas sumber daya manusia di daerahnya,” ujar Adiah dalam keterangannya, Minggu, 19 Oktober 2025.
Dalam laporan pengukuran tersebut, sejumlah kabupaten/kota di Kalteng berhasil meraih capaian dengan kategori tinggi.
Kabupaten Barito Selatan menempati posisi teratas dengan skor 88,57, disusul Lamandau dengan 87,76, serta Sukamara di angka 85,46. Daerah-daerah ini dianggap berhasil membangun sinergi antara pemerintah, komunitas literasi, dan masyarakat.
Sementara itu, Barito Utara, Seruyan, Pulang Pisau, dan Kota Palangka Raya juga tercatat dengan skor di atas 78, menandakan bahwa budaya literasi di wilayah-wilayah tersebut berkembang cukup baik.
Sebaliknya, sejumlah kabupaten seperti Kapuas, Barito Timur, dan Kotawaringin Timur masih berada di kategori sedang dengan skor di bawah 60.
Dispursip menilai daerah-daerah ini memerlukan dukungan program literasi yang lebih intensif, terutama dalam hal penyediaan fasilitas membaca dan kegiatan literasi masyarakat berbasis komunitas.
Adiah menegaskan bahwa peningkatan nilai IPLM ini merupakan hasil kerja bersama antara pemerintah daerah, tenaga pustakawan, lembaga pendidikan, hingga masyarakat umum. Namun, pemerataan capaian literasi masih menjadi tantangan utama yang harus dijawab ke depan.
“Kabupaten dengan capaian tinggi bisa menjadi contoh praktik terbaik bagi daerah lain. Sementara yang masih rendah perlu kita dampingi dengan program yang lebih kreatif dan adaptif,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa ke depan, Dispursip Kalteng akan fokus memperluas akses bahan bacaan digital, memperkuat literasi informasi di sekolah, serta membangun jejaring antarperpustakaan daerah untuk mempercepat peningkatan literasi di wilayah terpencil.
Lebih lanjut, Adiah menyebut peningkatan IPLM bukan sekadar soal angka, tetapi juga menjadi cermin kemajuan kualitas sumber daya manusia (SDM). Dengan masyarakat yang semakin melek literasi, kemampuan berpikir kritis dan daya saing daerah akan meningkat.
“Dengan pemahaman yang lebih mendalam mengenai kondisi literasi, Kalimantan Tengah dapat merancang kebijakan dan strategi yang tepat sasaran, sehingga tercipta masyarakat yang kritis, kreatif, dan siap menghadapi tantangan di era digital,” pungkasnya.
(Sya'ban)












