Camat Telawang Minta Publik Tenang, Penyebab Dugaan Keracunan Masih Menunggu Hasil Lab

IST/BERITASAMPIT - Ilustrasi menggunakan AI.

SAMPIT – Camat Telawang, Dedy Jauhari menyampaikan perkembangan kasus dugaan keracunan yang menimpa satu keluarga di Sebabi Timur (Kotim) hingga menyebabkan seorang balita meninggal dunia.

Ia menegaskan bahwa pihak berwenang masih melakukan penyelidikan dan mengumpulkan bukti serta keterangan saksi-saksi hingga uji laboratorium.

“Saat ini kami belum berani menyampaikan analisis apa pun. Semua masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium, kami berkoordinasi dengan Polsek Telawang dan Puskesmas Sebabi,” ujarnya Rabu 10 Desember 2025.

Menurutnya, salah satu pertanyaan besar yang masih harus dijawab adalah alasan hanya satu keluarga yang mengalami gejala keracunan, sementara warga lain yang diduga membeli makanan yaitu es teler atau roti bakar dari tempat sama tidak terdampak.

“Kita juga tidak ingin tempat usaha orang jadi buruk karena salah dugaan awal,” ujarnya.

Hal itu membuat dugaan penyebab harus diuji secara ilmiah dan tidak boleh disimpulkan tergesa-gesa. “Ada sejumlah kemungkinan, dan kami harus memastikan datanya valid lebih dulu,” tambahnya.

Terkait dugaan adanya aktivitas pemurnian emas hingga menyebabkan satu keluarga itu keracunan merkuri, camat tidak bisa berspekulasi lebih awal dan menyerahkan hasilnya kepada pihak yang berwenang.

“Kita serahkan hasil pastinya dengan pihak yang berwenang,” ungkapnya.

Diberitakan sebelumnya dugaan baru penyebab keracunan yang menimpa satu keluarga di Sebabi, Kecamatan Telawang mengarah pada kemungkinan adanya paparan uap merkuri dari aktivitas pemurnian emas tradisional yang dilakukan di dalam rumah keluarga tersebut.

Insiden yang diketahui pada Minggu, 7 Desember 2025 itu awalnya dikaitkan dengan konsumsi jajanan seperti es teler dan roti bakar.

Namun informasi terbaru dari sumber internal yang dipercaya justru menguak dugaan berbeda, keluarga itu diduga berada di lingkungan yang terkontaminasi uap air raksa yang digunakan sang kakek untuk memisahkan emas.

Keluarga tersebut diduga terlibat dalam aktivitas penambangan emas tradisional.

“Memang ada informasi bahwa di rumah itu dilakukan proses pemurnian emas memakai air raksa. Anak-anak berada di rumah saat proses itu berlangsung,” ungkapnya, Senin, 8 Desember 2025.

Anggota keluarga mengalami muntah, lemas, dan penurunan kesadaran hingga akhirnya dilarikan ke puskesmas sebelum dirujuk ke RSUD dr. Murjani Sampit. Satu di antaranya tidak dapat diselamatkan dan meninggal dunia setelah mendapat perawatan intensif. (Nardi)

baca juga ...  DPRD Kalteng Desak Pemkab Kotim Cepat Tanggap Benahi Drainase untuk Atasi Banjir
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!