Mahasiswa Kotim Suarakan Harapan dan Kritik Tajam di Usia 73 Tahun Kabupaten

IST/BERITA SAMPIT - Logo HUT Kotim yang Ke-73 Tahun.

SAMPIT – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-73 Kabupaten Timur (Kotim) tak hanya diwarnai ucapan selamat dan doa, tetapi juga menjadi momentum refleksi bagi generasi muda. Mahasiswa Kotim menyampaikan harapan besar sekaligus kritik membangun terhadap arah pembangunan daerah, Rabu 7 Januari 2026.

Salah satu suara datang dari Hardianto, mahasiswa asal Kotim, yang menyampaikan rasa bangga atas perjalanan panjang daerah berjuluk Habaring Hurung ini. Namun di balik kebanggaan itu, ia menegaskan masih banyak pekerjaan rumah yang belum terselesaikan, terutama menyangkut pemerataan pembangunan.

“Selamat Ulang Tahun Kotim ke-73. Harapan saya, ke depan bisa lebih baik, jujur, maju, serta lebih mengutamakan kepentingan masyarakat lokal,” ujar Hardianto.

Selain ucapan selamat, ia menyampaikan catatan kritis sekaligus keluh kesah yang menurutnya dialami oleh banyak warga di Kotim.

Ia menekankan bahwa pernyataannya bukan untuk mengesampingkan warga pendatang, melainkan bentuk keprihatinan atas minimnya pemerataan pembangunan yang dirasakan warga lokal, khususnya di wilayah pedesaan.

Menurutnya, nilai keadilan sosial sebagaimana tertuang dalam sila kelima Pancasila masih sebatas jargon bagi sebagian warga .

“Kami bertanya, kenapa kami sebagai masyarakat Kotim tidak merasakan apa yang seharusnya menjadi hak dan bagian kami?,” tanyanya dengan lugas.

Hardianto kemudian menyoroti secara spesifik kondisi di , termasuk desanya sendiri. Ia menyebut sejumlah persoalan mendasar yang masih menjadi tantangan sehari-hari.

“Terutama jalan menuju rusak, listrik tidak ada, sinyal tidak ada, pendidikan tidak memadai, belum berjalan maksimal, dan masih banyak lagi kesusahan yang kami alami,” paparnya.

Ia mengkritik ketidakmampuan pemerintah dalam menciptakan kesejahteraan di . Sebagai bentuk kritik yang membangun, ia mengajak Pemkab Kotim untuk turun langsung melihat realita di lapangan.

“Jika bisa, boleh langsung melihat realita di , terutama di saya, Rantau Sawang, Kecamatan Telaga Antang. Silahkan turun langsung. Yang saya sampaikan hanya sebagian kecil dari penderitaan yang kami alami,” ajaknya.

Hardianto menegaskan bahwa ungkapannya disampaikan secara netral dan berdasarkan fakta yang dialami, tanpa maksud menyudutkan pihak tertentu. Ia berharap suaranya dapat didengar sebagai masukan untuk perbaikan, agar masyarakat di Kotim juga dapat merasakan kesejahteraan, keadilan, dan pemerataan pembangunan.

“Demikian yang bisa saya sampaikan sebagai bagian dari kritik membangun. Terima kasih terhadap pihak yang terkait sudah memberi ruang untuk kami bersuara,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan oleh Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sampit (UMSA), Firman ia menyebut momen ini harus menjadi titik balik untuk kemajuan Kotim.

“Di usia yang sudah 73 Tahun Kotim harus bisa menjadi Kabupaten yang maju dan berkembang,” tegasnya.

Firman menyampaikan bahwa segala harapan dan kritik untuk Kotim menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secepatnya.

“Kritik dan saran merupakan PR yang harus mendapat nilai baik,” pungkasnya.

Pernyataan mahasiswa ini diharapkan dapat menjadi refleksi pada HUT Kotim Ke-74 tahun ini untuk bersama dalam membangun daerah yang lebih inklusif dan berkeadilan bagi seluruh warganya, tanpa terkecuali.

(Utomo)

baca juga ...  Ultimatum 32 Koperasi Plasma di Kotim: Mediasi Terakhir 27 Januari, Gagal Sepakat Demo Besar Digelar

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!