PALANGKA RAYA – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) mencatat luas panen padi di Kalteng sepanjang Januari-Desember 2025 mengalami penurunan sebesar 12,49 persen dibandingkan tahun 2024.
Penurunan luas panen tersebut berdampak pada turunnya produksi padi sebesar 8,94 persen pada periode yang sama.
Data tersebut disampaikan Statistisi Ahli Madya BPS Kalteng M. Taufiqurrahman dalam paparan Berita Resmi Statistik (BRS) yang disampaikan secara daring dari Ruang Vicon BPS Kalteng dan disiarkan melalui kanal YouTube resmi BPS, Senin, 2 Februari 2026.
“Penurunan produksi padi terutama disebabkan oleh berkurangnya luas panen pada Subround III, yaitu periode September hingga Desember 2025,” ujar Taufiqurrahman.
Meski demikian, BPS mencatat adanya potensi perbaikan pada awal tahun 2026. Berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area (KSA), potensi luas panen padi pada periode Januari–Maret 2026 diperkirakan mulai meningkat.
“Untuk awal tahun 2026, potensi luas panen padi pada periode Januari sampai Maret diperkirakan mulai meningkat berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, BPS juga memaparkan kondisi ekonomi daerah melalui perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK). Pada Januari 2026, Kalimantan Tengah mengalami inflasi sebesar 0,38 persen secara month-to-month.
“Inflasi tersebut terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar 0,30 persen,” kata Taufiqurrahman.
Ia menambahkan, komoditas utama penyumbang inflasi antara lain daging ayam ras, emas perhiasan, ikan gabus, ikan nila, dan beras, sementara penurunan harga bawang merah dan cabai rawit menjadi faktor yang menahan laju inflasi.
Secara year-on-year, inflasi Kalimantan Tengah tercatat sebesar 4,09 persen, dengan kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebagai penyumbang terbesar.
“Kenaikan tarif listrik serta harga emas perhiasan menjadi faktor dominan inflasi tahunan,” pungkas Taufiqurrahman.
(Sya'ban)












