Dari Ketahanan Pangan Banua ke Kedaulatan Informasi Borneo Tengah

IST/BERITASAMPIT - Foto ilustrasi.

Refleksi Kritis HPN 2025 Kalimantan Selatan menuju HPN 2026

HARI Pers Nasional (HPN) 2025 dengan tema “Pers Mengawal Ketahanan Pangan untuk Kemandirian Bangsa” menemukan konteks nyatanya di Kalimantan Selatan. Daerah ini lama dikenal sebagai Banua agraris: lumbung padi rawa, perikanan sungai, dan simpul distribusi pangan Kalimantan. Namun, refleksi atas HPN 2025 tidak bisa berhenti di batas administratif Kalimantan Selatan. Secara geografis, ekologis, dan kultural, denyut ketahanan
pangan Banua selalu terhubung erat dengan .

Sungai, rawa, dan jalur distribusi pangan tidak mengenal provinsi. Begitu pula persoalan pangan rakyat. Apa yang terjadi di hulu wilayah akan berpengaruh ke hilir Kalimantan Selatan, dan sebaliknya. Karena itu, refleksi HPN 2025 di Kalimantan Selatan justru relevan jika ditarik lebih luas ke sebagai
wilayah serumpun yang menghadapi tantangan serupa.

Pada HPN 2025, pers di Kalimantan Selatan didorong mengawal ketahanan pangan. Namun dalam praktik pemberitaan, isu pangan masih sering tampil sebagai seremonial: panen raya, bantuan pemerintah, atau kunjungan pejabat. Realitas petani kecil, nelayan sungai, peladang rawa, dan masyarakat adat lebih sering menjadi latar, bukan suara utama.

Pola ini juga terasa di . Wilayah dengan bentang gambut luas, pertanian pasang surut, dan terpencar ini justru membutuhkan pemberitaan yang lebih dalam, kontekstual, dan berkelanjutan. Tanpa itu, ketahanan pangan hanya menjadi jargon pembangunan, bukan kenyataan hidup masyarakat .

Di sinilah benang merah menuju HPN 2026 “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat” menjadi relevan. Tema ini bukan sekadar pergantian slogan, melainkan koreksi mendasar: bagaimana pers bisa mengawal pangan jika pers sendiri rapuh secara ekonomi, terganggu independensinya, dan jauh dari realitas ?

, Dana , BUMDes, dan Kopdes: Narasi yang Terpisah

Baik di Kalimantan Selatan maupun , ketahanan pangan sesungguhnya bertumpu pada ekosistem yang sama: Dana , BUMDes, dan Koperasi (Kopdes). Sayangnya, pemberitaan sering memisahkan ketiganya. Dana dilaporkan sebagai angka, BUMDes sebagai unit usaha, Kopdes sebagai kebijakan barutanpa dirangkai sebagai strategi kemandirian pangan .

Padahal, di memiliki potensi besar: pertanian lokal, perikanan sungai, pangan berbasis hutan, hingga usaha olahan . Tanpa publik melalui pers, potensi ini mudah kalah oleh narasi besar industri dan kepentingan pasar luar daerah.

Pers seharusnya hadir bukan hanya sebagai pelapor, tetapi pendidik publik menjelaskan bagaimana Dana bisa menopang pangan lokal, bagaimana BUMDes dan Kopdes dapat memperkuat distribusi dan nilai tambah, serta bagaimana membangun kedaulatan ekonomi dari bawah.

Pemberdayaan Pemberitaan dan Jurnalisme SerumpunHPN 2026 menekankan pers yang sehat dan ekonomi media yang berdaulat. Dalam konteks Kalimantan, ini berarti memperkuat jurnalisme dan jurnalisme kawasan. Wartawan lokal, kontributor daerah, dan penulis akar rumput harus diberi ruang untuk
bercerita tentang desanya sendiri bukan sekadar menjadi perpanjangan rilis.

Pemberdayaan pemberitaan di menjadi kunci. - di wilayah ini tidak cukup diberitakan sebagai daerah tertinggal atau objek pembangunan, tetapi sebagai subjek yang sedang berjuang menuju mandiri. Pers yang sehat akan berani mengangkat problem struktural pangan, konflik lahan, hingga ketimpangan distribusi. Pers yang berdaulat secara ekonomi tidak mudah dibungkam oleh kepentingan besar.

Dari Ketahanan Pangan menuju Mandiri

Jika HPN 2025 mengingatkan pers untuk menjaga ketahanan pangan rakyat, maka HPN 2026 mengingatkan pers untuk menjaga ketahanan dirinya sendiri. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Ketahanan pangan tanpa pers yang sehat hanya akan menjadi laporan tahunan. Pers yang sehat tetapi abai pada akan kehilangan akarnya.

Dari Kalimantan Selatan ke , refleksi ini menemukan maknanya: mandiri membutuhkan pangan yang berdaulat dan informasi yang jujur. Dana , BUMDes, dan Kopdes membutuhkan pemberitaan yang mencerahkan, bukan sekadar mengabarkan. Dan pers membutuhkan agar tetap berpihak pada kepentingan publik.

Jika 2025 adalah soal apa yang dimakan rakyat, maka 2026 adalah soal siapa yang menjaga kebenaran tentangnya. Dari Banua hingga Borneo Tengah, pers punya peran menentukan: menjaga dapur rakyat sekaligus menjaga akal sehat bangsa.

Penulis : Selamat Purwanto (Pegiat , Agrobis, Pemerhati Sosial dan Budaya)

baca juga ...  Disdik Kotim Dorong Sekolah Isi Kegiatan Positif Tekan Resiko Kesehatan Mental Pelajar
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!