Imlek dalam Rumah Bernama Nusantara

IST/BERITASAMPIT - Foto ilustrasi.

IMLEK berakar dari peradaban kuno di Tiongkok, tumbuh dari penanggalan lunar yang mengikuti siklus bulan dan pergantian musim. Ribuan tahun lalu, masyarakat agraris menandai tahun baru sebagai momen memulai kembali: membersihkan rumah, melunasi utang, memperbaiki hubungan, dan memanjatkan doa agar panen berikutnya lebih baik.

Legenda tentang makhluk Nian yang terusir oleh warna merah dan suara riuh memang hidup dalam cerita rakyat. Namun di balik kisah itu, tersimpan pesan sederhana: setiap awal tahun adalah momentum untuk mengalahkan rasa takut dan membuka lembaran baru dengan harapan.

Pada masa dinasti seperti Dinasti Han, tahun baru bukan sekadar perayaan keluarga. Ia menjadi ritual kenegaraan. Doa dipanjatkan untuk kesejahteraan negeri, untuk keberlimpahan hasil bumi, dan untuk harmoni sosial. Tradisi itu kemudian menyebar mengikuti arus migrasi dan perdagangan, hingga sampai ke berbagai wilayah Asia, termasuk ke kepulauan yang kini kita sebut Indonesia.

Di tanah ini, tradisi itu tidak berhenti sebagai warisan asing. Ia berbaur.

Makan Malam dan Energi Kuda Api

Dalam kalender Tionghoa, setiap tahun memiliki shio yang berputar dalam siklus dua belas hewan. Ketika memasuki tahun Kuda dengan unsur api sering disebut Kuda Api maknanya menjadi simbolik: energi, keberanian, daya juang, dan semangat bergerak maju.

Kuda melambangkan kerja keras dan kebebasan. Api melambangkan vitalitas dan transformasi. Kombinasi keduanya mengingatkan bahwa hidup selalu bergerak, kadang cepat, kadang penuh tantangan, tetapi selalu memberi ruang untuk pembaruan. Nilai itu terasa dalam makan malam Imlek.

Di meja makan, keluarga duduk melingkar. Ikan utuh disajikan sebagai lambang kelimpahan. Kue keranjang sebagai simbol peningkatan dan keeratan hubungan. Jeruk mandarin membawa harapan keberuntungan. Namun yang paling utama bukanlah simbolnya, melainkan kehadirannya: anak yang pulang, orang tua yang menunggu, percakapan yang menyambung kembali tali yang mungkin sempat renggang.

Di banyak wilayah Nusantara, hidangan itu pun beradaptasi. Lontong cap go meh hadir dengan bumbu lokal. Rempah Nusantara menyatu dengan tradisi Tionghoa. Meja makan menjadi ruang percampuran yang alami tanpa debat, tanpa sekat.

Perjalanan dalam Ruang Kebangsaan

Sejarah bangsa ini pernah melewati fase ketika sebagian ekspresi budaya tidak leluasa tampil di ruang publik. Pada masa Presiden Soeharto, perayaan Imlek lebih banyak berlangsung dalam lingkup keluarga.

Namun perjalanan sejarah tidak berhenti di sana. Pada masa Presiden Abdurrahman Wahid, ruang budaya kembali dibuka. Imlek kemudian diakui sebagai bagian dari hari besar .

Perubahan itu bukan hanya administratif. Ia menandai kematangan bangsa dalam memahami dirinya sebagai masyarakat majemuk.

Meja Makan dan Rumah Bersama

Hari ini, ketika Imlek tiba, lampion menyala di berbagai sudut kota. Di kota seperti Singkawang, perayaan menjadi festival bersama yang dirayakan lintas komunitas. Tetangga datang bersilaturahmi. Kue keranjang dibagikan. Ucapan selamat disampaikan tanpa rasa canggung.
Di situlah Imlek menemukan maknanya dalam rumah bernama Nusantara.

Ia bukan sekadar penanda identitas budaya. Ia adalah bagian dari kisah panjang percampuran, penerimaan, dan kebersamaan. Seperti tradisi lain yang tumbuh di negeri ini, Imlek ikut mengisi ruang sosial dengan nilai yang universal: keluarga, penghormatan, dan harapan.

Bangsa yang kokoh tidak hanya dibangun oleh kebijakan atau angka statistik. Ia dibangun oleh rasa saling percaya. Dan rasa itu sering lahir dari hal sederhana duduk semeja, berbagi makanan, dan saling mendoakan.

Barangkali, pesan kebangsaan yang paling jujur tidak selalu lahir dari pidato panjang. Ia tumbuh dari percakapan hangat di meja makan. Dari keyakinan bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan kekayaan.

Selama nilai kebersamaan itu dirawat, Imlek tidak berdiri di luar. Ia berada di dalam di dalam rumah besar bernama Nusantara.

Penulis: Selamat Purwanto (Pegiat , Agrobis, Pemerhati Sosial dan Budaya)

baca juga ...  Reza Pahlavi, Pangeran Pengasingan yang Bermimpi Gulingkan Ayatollah Khamenei
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!