Ramadan Pertama di Belantara Gambut

IST/BERITASAMPIT - Ilustrasi.

Oleh: Selamat Purwanto

MALAM itu langit tampak agak gelap. Cahaya rembulan menyelinap tipis di sela awan yang beriringan pelan. Angin seakan enggan datang menyapa. Alam terasa begitu hening, tenteram, dan syahdu seolah ikut menyambut datangnya bulan suci.
Marhaban ya Ramadan.

Kampung transmigran itu berada di ujung . Setelahnya hanya hamparan hutan lebat dan rawa gambut, tempat berbagai satwa khas Borneo hidup bebas. Dari kejauhan tampak cahaya samar berkelip lampu strongkeng berbahan minyak tanah yang menggantung di sebuah masjid kecil di Unit Pemukiman Transmigrasi.

Masjid itu sederhana, terbuat dari kayu, berdiri berpanggung seperti kebanyakan rumah di daerah itu. Udara malam terasa segar, sedikit dingin setelah hujan yang turun pada sore hari.

Bu Rini bersama keluarganya tiba di masjid untuk melaksanakan tarawih pertama. Di sana sudah berkumpul warga dari berbagai daerah: Jawa Barat, Jawa Tengah, Lampung, juga warga lokal. Mereka berbincang sebentar, saling berkenalan dan menanyakan asal-usul, sebelum iqamah berkumandang.

Salat Isya dilaksanakan lebih dulu, disusul dengan salat sunnah Tarawih. Meski hanya diterangi cahaya temaram lampu minyak, suasana ibadah berlangsung khusyuk. Setelah salam terakhir, imam menutup dengan doa bersama. Satu per satu jamaah kemudian berpamitan pulang.
Bu Rini dan keluarganya berjalan kaki menyusuri jalan tanah yang masih agak becek.

Malam semakin larut. Sunyi merambat pelan.
Hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar.
Sesekali terdengar jangkrik, burung malam, serta suara satwa liar dari semak di tepi jalan. Tiba-tiba dari kejauhan terdengar lolongan anjing hutan.
Bu Rini refleks menggenggam tangan suaminya. Ketiga anak mereka ikut merapat.
Pak Slamet menenangkan dengan suara pelan,
“Tidak usah takut. Mereka biasanya tidak mendekat.”
Anak-anak mengangguk meski wajah mereka masih waspada. Lolongan itu perlahan mereda. Yang tersisa hanya suara dedaunan yang bergoyang tertiup angin malam.
Sesampainya di rumah, Pak Slamet segera menutup pintu rapat-rapat. Sebuah lampu badai kecil tergantung di tengah ruangan, menjadi satu-satunya sumber cahaya di rumah panggung kayu mereka.

Tanpa terasa waktu menunjukkan pukul tiga dini hari.
Bu Rini menyalakan tungku kayu di dapur. Api kecil mulai menyala, menghangatkan ruang dapur yang sederhana. Ia menyiapkan sahur pertama mereka di tanah transmigrasi.

Di atas meja kayu kecil tersaji nasi dari beras jatah bulanan yang agak keras, ikan asin goreng, sambal, serta sayur bening bayam hasil panen dari ladang kecil mereka.
Untuk anak-anak, ia menggoreng satu butir telur saja. Telur itu dicampur dengan tepung terigu agar tampak lebih banyak—cukup untuk dibagi.
Setelah semua siap, Bu Rini membangunkan anak-anaknya yang masih terlelap di atas kasur tipis yang hanya dialasi tikar di lantai kayu. Mereka tidur tanpa dipan, hanya beralaskan kain lama yang mulai lusuh—oleh-oleh dari kampung halaman, pemberian Simbah.

Dengan mata setengah terbuka, anak-anak berjalan menuju ruang tamu.
Tidak ada meja makan di rumah itu. Bu Rini menggelar tikar plastik di lantai. Mereka duduk melingkar.
Sahur sederhana, namun penuh rasa syukur.
“Ayo bangun, Nak… jangan tidur lagi. Makan dulu, biar kuat puasanya besok,” kata Bu Rini lembut.
Anak-anak menguap, lalu mulai menyendok nasi perlahan.
Pak Slamet mengambil ikan asin, mengolesinya dengan sambal terasi, lalu menggigitnya pelan.
“Meski sederhana, kita harus tetap bersyukur,” katanya.
Anak-anak mengangguk sambil terus makan.
Suasana sahur berlangsung hening. Hanya suara sendok beradu dengan piring yang terdengar.
Tiba-tiba dari pengeras suara masjid terdengar panggilan sahur:
“Sahur… sahur… sahur…
Bapak Ibu segera sahur…
Sepuluh menit lagi imsak…”
Pak Slamet menoleh pada anak-anaknya.
“Sebentar lagi imsak. Ayo dihabiskan makannya,” ujarnya.
Setelah sahur selesai, mereka bergegas menunaikan shalat Subuh bersama.

Menjelang waktu berbuka puasa, mereka menerima undangan berbuka bersama dari warga lokal yang rumahnya tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Hanya enam keluarga transmigran yang diundang, yakni tetangga yang paling dekat saja.

Azan Magrib berkumandang dari masjid.
Acara dimulai dengan perkenalan singkat sebelum makanan disajikan.
Ketika hidangan dihidangkan, Bu Rini dan beberapa tamu dari Yogyakarta, Semarang, serta Lampung saling berpandangan.

Di atas meja tersaji oseng pakis atau kelakai—tumbuhan yang tumbuh liar di sepanjang jalan . Selain itu ada sayur santan dari umbut rotan muda.
Seorang tamu dari Semarang berbisik pelan,
“Rotan? Bukannya itu buat kursi?”
Pak Slamet pun berbisik kepada Bu Rini,
“Aku kira rotan cuma buat anyaman… ternyata dimakan juga.”
Mereka tampak ragu.
Melihat itu, istri tuan rumah tersenyum ramah.
“Di sini umbut rotan muda enak dimakan,” jelasnya.
“Rasanya mirip rebung. Sedikit pahit, tapi kalau dimasak santan jadi gurih.”
Para tamu mulai mencoba dengan hati-hati.
“Lho… ini sayur apa ya? Mirip pakis di hutan,” kata seorang bapak dari Yogyakarta.
“Betul, Pak. Kami menyebutnya kelakai,” jawab tuan rumah.
“Selain enak, katanya juga bagus untuk .”
Setelah dicicipi, ternyata rasanya gurih dan renyah.
Tak lama kemudian dihidangkan pula ikan bakar.
Ada sekitar sepuluh ekor ikan yang sudah dipenyet bersama sambal di cobek besar. Ukurannya kecil, hanya sebesar ibu jari kaki orang dewasa.

Para tamu kembali saling berpandangan.
Dalam hati mereka bertanya-tanya: bagaimana cara membagi ikan sekecil itu untuk banyak orang?
Tuan rumah tersenyum lagi.
“Ikan ini namanya iwak sapat,” katanya.
“Hasil meunjun… memancing di sungai kecil belakang lahan. Rasanya manis dan gurih.”
Ia lalu mencubit sedikit daging ikan dan menaruhnya di piring bersama nasi.
Melihat itu, Bu Rini berbisik pada suaminya,
“Kalau makannya begini, pasti cukup untuk semua.”
Pak Slamet mengangguk pelan.
Di kampung halaman mereka, ikan sekecil itu mungkin langsung habis dalam sekali suap. Namun di sini, semuanya dimakan dengan bijaksana—sedikit demi sedikit, cukup untuk semua yang hadir.

Sejak saat itu Bu Rini sering memperhatikan kebiasaan masyarakat lokal.
Setiap sore mereka pergi ke sungai kecil untuk meunjun, memancing ikan dengan kail sederhana. Yang menarik, mereka tidak pergi sendirian.
Suami, istri, anak-anak—bahkan balita—ikut bersama.
Mereka duduk di tepi sungai, bercengkerama sambil menunggu kail disambar ikan.
Namun yang paling membuat Bu Rini kagum, mereka hanya menangkap ikan secukupnya. Hanya untuk lauk makan hari itu.
Jika sudah cukup, mereka pulang.
Tidak mengambil lebih dari yang dibutuhkan.

Dalam perjalanan pulang, para ibu biasanya memetik daun kelakai di tepi jalan untuk dijadikan sayur.
Bu Rini merenung.
Betapa arifnya mereka memperlakukan alam.
Mereka mengambil secukupnya, hidup selaras dengan lingkungan. Tidak seperti sebagian orang yang menggunakan racun atau setrum listrik demi mendapatkan ikan lebih banyak tanpa memikirkan kerusakan alam.
Masyarakat di sini seakan mengajarkan bahwa hidup seharusnya berjalan berdampingan dengan alam—bukan sekadar mengeksploitasinya.
Bu Rini merasa bersyukur bisa belajar cara hidup yang sederhana namun penuh makna di tanah transmigrasi ini.

Malam pertama Ramadhan di belantara gambut itu memberi pengalaman yang berbeda.
Tidak ada gemerlap lampu jalan.
Tidak ada kemudahan seperti di kampung halaman.
Semua serba sederhana.
Namun justru dalam kesederhanaan itulah Bu Rini menemukan sesuatu yang lebih berharga—kehangatan keluarga, persaudaraan sesama perantau, dan ketulusan warga asli Borneo.

Ramadhan kali ini mengajarkannya satu hal:
Kebahagiaan bukan tentang kemewahan, tetapi tentang rasa syukur dan kebersamaan.
Ia teringat pesan ibunya sebelum berangkat ke tanah transmigrasi:
“Hidup ini bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa ikhlas kita menjalaninya.”
Bu Rini menatap anak-anaknya yang mulai terlelap.
Di tengah gelapnya malam belantara gambut, cahaya iman dan harapan tetap menyala di dalam hatinya.

Marhaban ya Ramadan.

baca juga ...  Pelita di Belantara Gambut
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!