PALANGKA RAYA – Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Farid Wajdi, membeberkan sejumlah kendala dalam penyerapan tenaga kerja penyandang disabilitas di wilayah setempat. Menurutnya, karakteristik sektor industri dominan di Kalteng menjadi faktor utama pembatas.
Farid menjelaskan bahwa sebagian besar perusahaan di Kalteng bergerak di sektor perkebunan kelapa sawit dan pertambangan yang memiliki medan kerja lapangan yang berat.
“Sebagian besar perusahaan di kita ini kan perusahaan yang berkaitan dengan perkebunan kelapa sawit dan tambang. Nah kalau penyandang disabilitas kan kalau bekerja di lapangan seperti itu terbatas sekali,” ujar Farid Wajdi, Senin, 13 April 2026.
Ia menambahkan, serapan tenaga kerja disabilitas saat ini masih terkonsentrasi pada pekerjaan administratif atau sektor mandiri.
“Bahkan serapan tenaga kerja kita mungkin lebih ke yang berada ke kantor atau mereka bekerja mandiri,” imbuhnya.
Guna menyiasati keterbatasan tersebut, Pemerintah Provinsi Kalteng melalui Disnakertrans terus menggenjot program pelatihan keterampilan agar kelompok disabilitas mampu berwirausaha secara otonom. Farid mencontohkan beberapa program yang telah berjalan sukses.
“Kita lakukan kemarin pelatihan disabilitas tunawicara untuk membikin kue kekinian. Kemudian tahun sebelumnya penyandang disabilitas tuna netra kita latih pijat. Jadi sebagian dari disabilitas ini bekerja secara mandiri karena dia dilatih untuk itu,” jelasnya.
Selain mendorong sektor swasta dan mandiri, Disnakertrans Kalteng juga berkomitmen memberikan contoh nyata dalam inklusivitas di lingkungan kerja pemerintahan. Saat ini, terdapat dua pegawai penyandang disabilitas yang bertugas di kantor Disnakertrans Kalteng.
“Di kantor kami juga ada disabilitas di Disnaker, ada dua orang. Dan itu sekarang mereka duduk di unit layanan disabilitas. Jadi kalau ada penyandang disabilitas yang konsultasi akan nyaman, karena yang melayani penyandang disabilitas,” pungkasnya.
(Syauqi)












