Harga Dexlite Naik Picu Kelangkaan Solar Subsidi di Bulik

ANDRE/BERITASAMPIT - SPBU Jalan Lintas Kalimantan, Bulik, tampak sepi, Senin 20 April 2026, Kenaikan harga Dexlite disebut memicu peralihan konsumsi ke solar.

– Kenaikan harga Dexlite mencapai Rp24.150 rupiah per liter berdampak pada peralihan penggunaan bahan bakar oleh sopir angkutan dan operator alat berat ke solar subsidi dengan harga Rp6.800 rupiah. Perubahan ini disebut menjadi salah satu pemicu kelangkaan solar di wilayah Bulik, Kabupaten , sejak 17 April 2026.

Kelangkaan dikeluhkan masyarakat, terutama jasa angkutan seperti pikap, truk, dan pelaku usaha kecil yang bergantung pada BBM subsidi untuk operasional harian.

Di salah satu SPBU di Jalan Lintas Kalimantan, pasokan solar disebut terbatas. 

Operator SPBU tersebut, Komar, menjelaskan bahwa distribusi solar subsidi hanya datang dua kali dalam seminggu dengan kapasitas sekitar 8.000 liter.

“Pasokan tetap, tidak ada pengurangan. Tapi antrean memang masih terjadi,” kata Komar, Senin 20 April 2026.

Menurutnya, lonjakan permintaan membuat pihak SPBU menerapkan pembatasan pembelian. Untuk kendaraan pikap, pengisian dibatasi sekitar 40 liter, sedangkan truk hingga 60 liter.

Pengawasan distribusi, lanjut Komar, dilakukan bersama aparat TNI. Namun demikian, di lapangan muncul dugaan bahwa solar subsidi belum sepenuhnya tepat sasaran. 

BBM tersebut diduga masih digunakan oleh pihak yang tidak berhak, seperti sektor industri, perkebunan skala besar, hingga aktivitas pengetap.

Di sisi lain, pasokan BBM non-subsidi seperti pertalite, dexlite, dan pertamax terpantau relatif lancar. Distribusi dilakukan setiap hari dengan kapasitas sekitar 1.600 liter pada siang hingga sore hari.

Seorang sopir truk yang enggan disebutkan namanya mengaku terdampak langsung kondisi ini. Ia mengatakan, kenaikan harga Dexlite memaksanya beralih ke solar subsidi demi menekan biaya operasional.

“Sejak Dexlite naik, kami beralih ke solar. Tapi sekarang solar justru langka tanpa kejelasan. Kami sangat dirugikan, di eceran sampai 16 ribu perliter,” ujarnya.

baca juga ...  Lamandau Raih Penghargaan Nasional, Bukti Pertumbuhan Ekonomi Berbasis Lokal

Ia menjelaskan, selisih harga yang cukup jauh membuat Dexlite tidak lagi sepadan. Sementara pendapatan dirinya jasa angkutan tidak mengalami peningkatan.

“Kalau tetap pakai Dexlite, ongkos jadi lebih mahal. Tidak bisa bersaing dengan sopir lain,” katanya.

Menurut dia, kondisi di lapangan membuat dirinya tidak memiliki banyak pilihan. (andre)

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!