PALANGKA RAYA – Program D1 Vokasi Pertanian di Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (UMPR) resmi diluncurkan sebagai upaya mencetak tenaga terampil sekaligus mendukung program nasional cetak sawah.
Peluncuran tersebut dirangkaikan dengan Wisuda Gelombang I Tahun 2026 serta ground breaking pembangunan UMPR Hall di Kampus 2 UMPR, Palangka Raya, Kamis, 23 April 2026.
Wakil Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng), Edy Pratowo, dalam sambutannya menyampaikan selamat kepada para wisudawan dari jenjang diploma hingga pascasarjana.
Ia menegaskan pentingnya pendidikan yang tidak hanya berorientasi teori, tetapi juga praktik.
Menurutnya, Program D1 Vokasi Pertanian menjadi langkah strategis dalam menyiapkan generasi muda yang siap kerja sekaligus memperkuat sektor pangan di daerah.
“Harapannya, anak-anak Kalteng tidak hanya melanjutkan pendidikan, tetapi juga memiliki kemampuan yang langsung bisa diterapkan di lapangan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, peserta program akan dibekali keterampilan praktis di bidang pertanian, perikanan, dan peternakan.
Program ini direncanakan menampung sekitar 2.000 lulusan SMA/sederajat dari seluruh wilayah Kalteng melalui Akademi Komunitas Muhammadiyah Palangka Raya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Kalteng, Muhammad Reza Prabowo, menyebut program tersebut ditargetkan segera berjalan setelah izin prinsip dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi diterbitkan.
“Izin prinsipnya ditargetkan terbit dalam waktu dekat untuk mendukung program Presiden Prabowo Subianto, yaitu cetak sawah rakyat,” katanya.
Reza menambahkan, program ini dirancang untuk mencetak tenaga terampil yang siap langsung terjun ke lapangan dan terbuka bagi berbagai kalangan, termasuk lulusan sarjana.
“Tidak masalah meskipun sudah S1, jika ingin mengambil D1 lagi dipersilakan, karena orientasinya langsung kerja,” jelasnya.
Ia menuturkan, sistem pembelajaran lebih menitikberatkan pada praktik dengan komposisi 70 persen kegiatan lapangan dan 30 persen teori di kelas. Mahasiswa juga akan terlibat langsung dalam aktivitas pertanian yang memiliki nilai ekonomis.
“Ketika belajar menanam atau membajak sawah, itu sudah memiliki nilai ekonomis. Bahkan penggunaan alat seperti traktor juga dihitung per meternya,” pungkasnya.
(Sya'ban)












