SAMPIT – Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Yolanda Lonita Fenisia, menyampaikan apresiasi terhadap kehadiran Sekolah Alam Bumi Khatulistiwa yang dinilai sejalan dengan program pendidikan nasional, khususnya dalam penerapan pembelajaran mendalam.
Menurut Yolanda, konsep sekolah alam yang dibangun di Jalan Jenderal Sudirman Km8 Sampit ini sangat mendukung metode pembelajaran yang menekankan pengalaman bermakna dan menyenangkan bagi peserta didik.
“Kami sangat mengapresiasi karena sekolah alam ini sebenarnya mendukung program pendidikan dalam pembelajaran mendalam yang menekankan meaningful dan joyful learning. Harapannya, sekolah ini bisa memberikan penguatan karakter bagi anak-anak di Kotim,” ujarnya, Jumat 24 April 2026 saat hadir dalam kegiatan peletakan batu pertama.
Ia menambahkan, pada dasarnya konsep pembelajaran mendalam sudah diterapkan di seluruh satuan pendidikan, karena merupakan bagian dari program Kementerian Pendidikan. Namun, setiap sekolah memiliki pendekatan dan istilah yang berbeda.
“Kalau pembelajaran mendalam itu sebenarnya sudah ada di semua sekolah, hanya saja penyebutannya yang berbeda-beda,” katanya.
Yolanda juga membandingkan konsep sekolah alam dengan sekolah Adiwiyata yang berfokus pada lingkungan. Menurutnya, keduanya memiliki kesamaan, namun sekolah alam memiliki pendekatan yang lebih spesifik.
“Sekolah Adiwiyata itu sekolah umum yang dilombakan sebagai sekolah hijau oleh dinas lingkungan hidup. Ada kemiripan, tetapi sekolah alam ini lebih ke tema khusus,” jelasnya.
Terkait ketersediaan sekolah dasar, Yolanda menyebut untuk wilayah dalam kota sudah tergolong mencukupi. Namun, untuk wilayah pelosok seperti di utara Kotim masih perlu dilakukan kajian lebih lanjut seiring pertumbuhan jumlah penduduk.
“Kalau untuk SD di dalam kota sudah cukup, tetapi wilayah utara masih perlu kita lakukan pemetaan karena pertumbuhan penduduk mempengaruhi jumlah peserta didik,” ungkapnya.
Ia menegaskan, Dinas Pendidikan Kotim mendukung penuh kehadiran sekolah alam dan siap berkolaborasi dalam pengembangan program pendidikan ke depan.
“Pada prinsipnya kami mendukung dan siap berkolaborasi agar bisa menghasilkan SDM yang siap bersaing di tingkat global,” tegasnya.
Selain itu, pihaknya juga akan melakukan pemutakhiran data sarana dan prasarana pendidikan di seluruh wilayah Kotim, mengingat kondisi geografis yang luas hingga mencakup daerah utara dan selatan.
“Kami akan melakukan mapping ulang terhadap sarana prasarana pendidikan. Ini penting karena wilayah Kotim tidak hanya di dalam kota, tetapi juga sampai ke desa–desa,” jelasnya.
Yolanda juga mengungkapkan rencana ke depan untuk menjalin kerja sama dengan pihak swasta, termasuk perusahaan perkebunan, dalam mendukung penyediaan fasilitas pendidikan di wilayah terdekat.
“Kami berencana berkolaborasi dengan pihak perkebunan untuk mendukung sarana pendidikan yang dekat dengan wilayah mereka,” katanya.
Terkait akses pendidikan lanjutan, ia menjelaskan bahwa jenjang sekolah dasar umumnya sudah tersedia hingga tingkat desa. Namun, untuk SMP, sebarannya masih terbatas sehingga banyak siswa melanjutkan pendidikan ke luar daerahnya.
“Kalau SD masih tercukupi, tetapi untuk SMP memang belum merata. Itu sebabnya banyak anak yang melanjutkan sekolah ke luar desa, termasuk ke jenjang SMA,” tandasnya. (Nardi)












