JAKARTA— Kemandirian fiskal dan pengelolaan potensi pendapatan daerah dinilai menjadi kunci utama dalam mengukur kemajuan suatu wilayah, baik di tingkat daerah, kecamatan, hingga pemerintahan tingkat desa atau negeri.
Hal tersebut ditegaskan oleh praktisi politik, Saleh Wattiheluw, dalam forum diskusi “IKASSI Bacarita” yang berlangsung hangat di Negeri Siri Sori Islam, Kecamatan Saparua Timur, Maluku Tengah.
Dalam paparannya di hadapan para tokoh masyarakat dan pemuda, Saleh Wattiheluw menggarisbawahi bahwa indikator kemajuan sebuah wilayah tidak lagi hanya dilihat dari pembangunan infrastruktur fisik semata, melainkan dari sejauh mana wilayah tersebut mampu mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Sebuah negeri atau desa, bahkan daerah itu maju, dilihat dari potensi pendapatan daerahnya. Tanpa adanya kemandirian ekonomi dan pengelolaan potensi yang terarah, kita akan terus bergantung pada dana stimulan tanpa ada lompatan kemajuan yang signifikan,” ujar Saleh.
Secara spesifik mengenai Negeri Siri Sori Islam, Saleh melihat adanya modal besar yang belum tergarap secara maksimal. Menurutnya, Siri Sori Islam memiliki keunggulan kompetitif yang komplet, mulai dari sektor perkebunan rempah tradisional seperti cengkih dan pala, potensi kelautan, hingga kekayaan sejarah dan wisata religi yang kuat di Pulau Saparua.
Saleh mendorong agar Pemerintah Negeri Siri Sori Islam bersama elemen masyarakat mulai menggeser paradigma pembangunan menuju sektor produktif.
Salah satunya adalah dengan memperkuat peran Badan Usaha Milik Negeri (BUMNeg) untuk mengelola hasil bumi dan perikanan, sehingga memiliki nilai tambah sebelum dilempar ke pasar.
“Siri Sori Islam punya modal sejarah dan alam yang luar biasa. Jika potensi-potensi ini dikelola dengan manajemen yang modern dan transparan, negeri ini tidak hanya akan maju dari segi pemenuhan fasilitas dasar, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi masyarakat secara mandiri dan berkelanjutan,” pungkas Saleh Wattiheluw.
Forum IKASSI Bacarita ini diharapkan dapat menjadi pemantik dialog berkelanjutan antara pemangku kebijakan, praktisi, dan warga dalam merumuskan cetak biru (blueprint) pembangunan ekonomi Negeri Siri Sori Islam ke depan.
(Adista)












