KUALA PEMBUANG – Penutupan SPBU Nomor 65.742.002 di Simpang Bangkal, Kabupaten Seruyan, yang telah berlangsung lebih dari satu bulan tanpa kejelasan menuai sorotan. Ketiadaan informasi resmi dari pengelola maupun pihak terkait membuat masyarakat bertanya-tanya mengenai penyebab dan kapan SPBU tersebut kembali beroperasi.
Selama ini, SPBU yang berada di Jalan Jenderal Sudirman KM 65, Desa Bangkal, menjadi salah satu akses utama masyarakat untuk mendapatkan bahan bakar, terutama BBM bersubsidi. Namun sejak tutup, warga terpaksa mencari alternatif lain dengan harga yang jauh lebih mahal.
Kondisi tersebut mendapat perhatian dari Anggota DPRD Seruyan Fraksi PDI Perjuangan, Subani. Ia mempertanyakan alasan penutupan SPBU yang dinilai terlalu lama tanpa adanya penjelasan terbuka kepada masyarakat.
“SPBU sudah lebih dari sebulan tutup tanpa kejelasan. Bahkan saat dilakukan konfirmasi kepada pihak pengelola, tidak ada jawaban yang jelas terkait penyebab maupun kapan akan kembali beroperasi,” ujar Subani, Sabtu 30 Mei 2026.
Menurutnya, ketidakpastian tersebut berdampak langsung terhadap masyarakat yang kini harus membeli BBM dari pengecer atau jasa langsir dengan harga yang melonjak tajam.
Akibat kelangkaan pasokan di wilayah tersebut, harga Pertamax langsir dilaporkan mencapai Rp 20.000 hingga Rp 25.000 per liter. Kondisi ini dinilai memberatkan warga dan pelaku usaha yang bergantung pada ketersediaan bahan bakar untuk aktivitas sehari-hari.
(ASY)












