SAMPIT – Dinas Pendidikan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus mempercepat transformasi digital di sektor pendidikan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menerapkan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) berbasis online pada tahun ajaran 2026/2027.
Sekretaris Dinas Pendidikan Kotim, Cipto Utama, mengatakan saat ini sebanyak 15 sekolah dasar negeri dan 10 sekolah menengah pertama negeri telah menerapkan sistem pendaftaran secara daring. Jumlah tersebut akan terus ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang.
“Melalui sistem online ini, proses SPMB menjadi lebih transparan dan akuntabel,” kata Cipto, Rabu 10 Juni 2026.
Kepala Seksi Kurikulum dan Pembinaan SD Dinas Pendidikan Kotim, Muhammad Noor Akbar, menjelaskan digitalisasi pendidikan tidak hanya diterapkan dalam proses belajar mengajar, tetapi juga mencakup seluruh layanan pendidikan.
Menurutnya, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah menjadi kebutuhan utama masyarakat sehingga dunia pendidikan harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.
“Transformasi pendidikan dilakukan dari hulu hingga hilir, termasuk dalam sistem penerimaan murid baru yang sekarang sudah berbasis online,” ujarnya.
Dengan sistem tersebut, masyarakat tidak lagi harus datang langsung ke sekolah untuk mendaftarkan anaknya. Seluruh proses pendaftaran dapat dilakukan dari rumah menggunakan telepon genggam.
“Orang tua tidak perlu lagi berdesakan atau mengantre di sekolah. Cukup menggunakan handphone, proses pendaftaran sudah bisa dilakukan,” jelasnya.
Selain mempermudah masyarakat, penerapan SPMB online juga dinilai mampu meningkatkan keterbukaan dan meminimalkan potensi permasalahan dalam proses penerimaan peserta didik.
Di bidang pembelajaran, Disdik Kotim juga mulai mendorong pemanfaatan teknologi digital di sekolah-sekolah. Ke depan, proses belajar mengajar tidak hanya mengandalkan papan tulis konvensional, tetapi juga memanfaatkan layar interaktif, perangkat digital, internet, dan berbagai teknologi pendukung lainnya.
“Kita menuju pembelajaran yang lebih modern dengan memanfaatkan teknologi informasi sebagai bagian dari proses belajar,” katanya.
Akbar menambahkan, pelaksanaan asesmen dan evaluasi pembelajaran secara bertahap juga akan beralih ke sistem digital yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
“Asesmen sumatif nantinya tidak lagi bergantung pada penggunaan kertas dalam jumlah besar. Semua akan diarahkan ke sistem digital dan paperless,” ujarnya.
Penerapan Kurikulum Merdeka secara penuh juga membawa sejumlah perubahan dalam proses pembelajaran. Salah satunya adalah kembali diajarkannya mata pelajaran Bahasa Inggris di tingkat sekolah dasar.
“Mulai tahun ajaran baru, Bahasa Inggris kembali diajarkan dan tenaga pengajarnya sudah dipersiapkan,” kata Akbar.
Selain itu, siswa juga mulai diperkenalkan dengan pembelajaran Coding dan Kecerdasan Artifisial (Artificial Intelligence/AI) sebagai bekal menghadapi perkembangan teknologi di masa depan.
Menurut Akbar, penguasaan teknologi sejak usia dini menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari. Karena itu, guru dan peserta didik harus mampu memanfaatkan teknologi secara positif dan produktif.
“Kita tidak bisa menghindari perkembangan teknologi. Yang harus dilakukan adalah menguasainya dan memanfaatkannya untuk mendukung kemajuan pendidikan,” tegasnya.
Ia optimistis digitalisasi pendidikan akan meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus memperluas akses pendidikan yang lebih modern dan inklusif di seluruh wilayah Kotim.
“Platform sudah tersedia, aplikasinya ada, dan sarana prasarana terus ditingkatkan. Tinggal bagaimana kita bersama-sama memanfaatkannya untuk kemajuan pendidikan,” pungkasnya. (nardi)












