SAMPIT – Dampak musim kemarau mulai dirasakan sejumlah desa di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Selain meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kemarau juga menyebabkan berkurangnya ketersediaan air bersih di beberapa wilayah, terutama kawasan selatan.
Wakil Bupati Kotim Irawati mengatakan hingga pertengahan Juli 2026 sudah ada empat desa yang mengajukan permohonan bantuan air bersih kepada pemerintah daerah.
Keempat desa tersebut adalah Desa Kuin Permai, Desa Lampuyang, Desa Regei Lestari, dan Desa Jaya Karet. Menurutnya, masyarakat di desa–desa tersebut mulai kesulitan memperoleh air yang layak untuk kebutuhan sehari-hari.
“Kalau musim kemarau terus berlangsung, kemungkinan akan ada desa–desa lain yang ikut mengajukan permohonan bantuan air bersih,” ujarnya usai Apel Siaga Karhutla di Stadion 29 November Sampit, Rabu 15 Juli 2026.
Irawati menjelaskan, persoalan utama di wilayah pesisir bukan karena tidak tersedia air, melainkan kualitas air yang berubah menjadi asin akibat intrusi air laut saat musim kemarau.
“Di wilayah selatan air memang masih ada, tetapi saat kemarau kandungan garamnya meningkat sehingga tidak layak dikonsumsi masyarakat,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Kotim telah berkoordinasi dengan Perumdam Tirta Mentaya agar distribusi air bersih dapat segera dilakukan kepada desa–desa yang membutuhkan dengan perkiraan tiap desa berkisar 15 ribu hingga 20 ribu liter air.
Pemerintah juga akan terus memantau perkembangan kekeringan mengingat musim kemarau diperkirakan masih berlangsung beberapa bulan ke depan. Jika jumlah desa terdampak bertambah, penyaluran bantuan air bersih akan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. (Nardi)












