SAMPIT – Perjuangan merebut kemerdekaan memang telah berakhir, tetapi perjuangan untuk menjaga dan mengisi kemerdekaan belum selesai. Pesan kuat itu disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Darul Amin Sampit, Ustadz Ahmad Rayyan Zuhdi Abrar, saat mengajak para santri menjadikan ilmu, karakter, dan karya sebagai senjata menghadapi tantangan bangsa di masa depan.
Menurut Ahmad Rayyan, generasi muda, khususnya para santri, merupakan “pahlawan masa kini” yang memiliki medan perjuangan berbeda dengan para pejuang kemerdekaan di masa lalu.
“Pahlawan masa lalu bertempur melawan penjajah memakai bambu runcing. Pahlawan masa kini, yaitu kalian, bertempur melawan rasa malas, ketertinggalan, dan ketidakpedulian memakai ilmu, karya, dan karakter yang kuat,” tegas Ahmad Rayyan.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu pesan utama yang ia sampaikan dalam momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026.
Ahmad Rayyan mengingatkan bahwa memaknai kemerdekaan tidak cukup hanya dengan mengikuti upacara, menghafal teks Proklamasi, atau mengenang jasa para pahlawan.
Menurutnya, generasi saat ini harus mampu menjawab pertanyaan yang lebih penting: apa yang dilakukan setelah kemerdekaan diwariskan kepada mereka?
“Delapan puluh satu tahun lalu, para pahlawan kita menyerahkan segalanya, yakni keringat, darah, bahkan nyawa, agar hari ini kita bisa berdiri di sini tanpa bayang-bayang penjajahan,” ujarnya.
Karena itu, ia meminta para santri tidak menjadikan kemerdekaan sebagai seremoni tahunan semata. Kemerdekaan harus diisi dengan tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan bangsa.
“Mari kita isi kemerdekaan ke-81 ini dengan prestasi, kerja keras, dan kepedulian pada sesama,” katanya.
Mengacu pada tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, Ahmad Royyan mengajak para santri memahami bahwa tiga kata tersebut bukan sekadar slogan, melainkan cita-cita yang membutuhkan kontribusi nyata generasi muda.
Ia menjelaskan, berdaulat bukan hanya berkaitan dengan kemampuan negara menjaga wilayahnya, tetapi juga menyangkut sikap bangsa dalam mempertahankan kehormatan dan identitasnya.
“Berdaulat artinya kita tidak gampang diombang-ambingkan. Berdaulat tidak cuma soal menjaga perbatasan negara, tapi juga menjaga kehormatan bangsa,” jelasnya.
Karena itu, para santri diminta memiliki pendirian, tidak mudah terseret tren negatif, serta mampu membedakan informasi yang benar dan berita bohong atau hoaks.
“Punya pendirian. Tidak mudah terpengaruh tren negatif, pintar memilih mana informasi yang benar dan mana berita bohong, serta bangga dengan identitas bangsa sendiri,” pesannya.
Sementara itu, mengenai makna adil, Ahmad Rayyan mengatakan bahwa nilai tersebut dapat dimulai dari lingkungan sederhana, termasuk sekolah dan pesantren.
Ia menekankan pentingnya membangun lingkungan pendidikan yang bebas dari perundungan, saling menjatuhkan, maupun tindakan diskriminatif.
“Di sekolah, adil itu sederhana: tidak ada bullying, tidak saling menjatuhkan, menghormati teman tanpa membeda-bedakan, dan memberi kesempatan yang sama bagi siapa saja untuk berkembang,” tuturnya.
Menurutnya, karakter seperti itu merupakan bagian penting dalam membangun Indonesia yang lebih baik. Sebab, bangsa yang besar tidak hanya membutuhkan orang pintar, tetapi juga generasi yang memiliki integritas dan kepedulian.
Dalam hal kemakmuran, Ahmad Royyan menegaskan bahwa kesejahteraan bangsa tidak akan datang dengan sendirinya.
Kemakmuran, menurutnya, lahir dari kerja keras, inovasi, pendidikan, dan penguasaan ilmu pengetahuan.
“Kemakmuran bangsa tidak turun dari langit. Kemakmuran lahir dari kerja keras, inovasi, dan penguasaan ilmu pengetahuan. Kalian yang duduk di bangku sekolah hari ini adalah calon pemegang kunci kemakmuran Indonesia di masa depan,” katanya.
Ia pun meminta para santri tidak hanya menjadi penonton dalam perjalanan bangsa. Mereka harus mempersiapkan diri sejak sekarang agar mampu mengambil peran ketika Indonesia membutuhkan generasi penerus.
Dalam pesannya, Ahmad Rayyan juga mengaitkan kecintaan terhadap tanah air dengan nilai-nilai keagamaan. Ia mengutip penjelasan Syekh Ismail Haqqi Al-Hanafi Al-Khalwati dalam Tafsir Ruhul Bayan mengenai kecintaan terhadap tanah air.
Menurutnya, cinta tanah air harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar ucapan.
Mencintai Indonesia, lanjutnya, berarti ikut menjaga kehormatan bangsa, menghargai sesama, menjaga persatuan, meningkatkan kualitas diri, serta memberikan manfaat bagi lingkungan.
Karena itu, ia mengajak para santri untuk menjadi generasi yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak, keberanian, kreativitas, dan kepedulian sosial.
“Jangan tunggu nanti untuk berbuat baik. Jadilah pribadi yang jujur, kreatif, dan berani bermimpi besar,” pesannya.
Ahmad Rayyan juga mengajak seluruh santri, asatiz, dan guru di Ponpes Darul Amin untuk terus menumbuhkan semangat perjuangan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, jika generasi muda mampu mengalahkan rasa malas, mengejar ilmu, menghasilkan karya, menjaga persatuan, dan peduli terhadap sesama, maka itulah bentuk perjuangan yang relevan di era kemerdekaan.
“Buktikan bahwa Indonesia bukan cuma sekadar nama negara, tapi tempat di mana keadilan dan kemakmuran benar-benar hidup,” pungkasnya.
Bagi Ahmad Rayyan, perjuangan belum selesai. Jika dahulu para pahlawan mengangkat bambu runcing untuk mengusir penjajah, maka generasi hari ini harus mengangkat ilmu untuk melawan kebodohan, karya untuk melawan ketertinggalan, dan karakter untuk menjaga masa depan bangsa.
(Jimmy)











