SAMPIT – Musim kemarau yang melanda Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tidak hanya berdampak pada meningkatnya suhu udara. Di sejumlah wilayah, masyarakat juga mulai menghadapi persoalan ketersediaan air bersih hingga ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kondisi tersebut mendapat perhatian dari Ketua Tanfidziyah PCNU Kotawaringin Timur, Ustadz Achmad Robita. Ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama menghadapi musim kemarau dengan meningkatkan kepedulian dan empati, khususnya terhadap warga yang terdampak maupun petugas yang berada di garis depan penanganan karhutla.
Menurutnya, persoalan kabut asap menjadi salah satu tantangan paling berat yang harus dihadapi masyarakat setiap kali musim kemarau tiba. Karena itu, penanganannya tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah maupun petugas pemadam.
“Musim kemarau yang kita hadapi sangat berdampak pada kehidupan. Mulai dari panasnya cuaca, kekurangan air bersih di beberapa wilayah, hingga bencana kabut asap,” ujar Achmad Robita.
Ia mengatakan, masyarakat perlu bahu-membahu dan saling berempati. Bukan hanya merasakan penderitaan warga yang terdampak asap, tetapi juga memahami kondisi para petugas yang setiap hari berjibaku mengendalikan dan memadamkan api.
“Mereka tidak mengenal lelah dan waktu. Mereka berjibaku mengendalikan dan memadamkan api. Karena itu, kita juga harus turut merasakan apa yang sedang mereka rasakan dan hadapi,” katanya.
Achmad Robita mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan, baik untuk kepentingan pribadi maupun aktivitas lainnya yang berpotensi menimbulkan karhutla.
Menurutnya, dampak pembakaran tidak berhenti pada lahan yang terbakar. Asap yang dihasilkan dapat menyebar dan mengganggu kehidupan masyarakat yang berada jauh dari lokasi kebakaran.
“Jangan sampai kita termasuk golongan yang justru melakukan pembakaran untuk kepentingan apa pun,” tegasnya.
Ia menjelaskan, dalam perspektif agama Islam, perbuatan yang menimbulkan mudarat bagi orang lain harus dihindari. Dalam konteks pembakaran lahan, persoalannya bukan hanya pada api, tetapi juga dampak asap yang mengganggu dan merugikan masyarakat.
“Dalam agama, membakar lahan ini haram. Illat atau sifat yang menjadi alasan keharamannya terletak pada terganggunya orang lain yang terdampak asapnya,” jelasnya.
Menurut Achmad, sebagian orang terkadang memahami kezaliman hanya sebagai tindakan yang dilakukan secara langsung, seperti memukul atau menyakiti orang lain secara fisik. Padahal, kezaliman juga dapat terjadi secara tidak langsung.
“Sebagian orang berpikir bahwa kezaliman itu sifatnya aktif atau langsung, seperti memukul seseorang. Padahal ada juga kezaliman yang bersifat pasif atau tidak langsung, seperti membakar sampah atau lahan kemudian asapnya bertebaran di luar kontrol dan mengganggu orang lain,” ujarnya.
Ia menilai, karhutla dan kabut asap bukan persoalan sederhana. Ketika asap sudah menyebar, banyak sektor kehidupan masyarakat ikut terdampak.
Mulai dari kesehatan, aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga transportasi dapat terganggu akibat buruknya kualitas udara dan terbatasnya jarak pandang.
“Akibat ulah pembakar lahan, banyak sektor kehidupan yang terganggu. Kesehatan, ekonomi, pendidikan, transportasi dan lainnya. Karena itu, tentu pelaku yang melakukan kezaliman ini harus ditindak sesuai hukum positif,” katanya.
Achmad berharap masyarakat tidak mengambil tindakan yang dapat merugikan orang lain hanya demi kepentingan sesaat. Menurutnya, menjaga lingkungan dan mencegah karhutla merupakan tanggung jawab bersama.
Perbanyak Istighfar dan Sedekah
Selain upaya pencegahan secara sosial dan penegakan hukum, Achmad Robita juga mengingatkan pentingnya pendekatan spiritual dalam menghadapi musim kemarau.
Khususnya bagi umat Islam, ia mengajak masyarakat memperbanyak istighfar dan bertaubat kepada Allah SWT, sekaligus memperbaiki hubungan antarsesama.
“Bagi orang beragama, terutama umat Islam, dalam menghadapi musim kemarau ini agama mengajarkan kita agar banyak memohon ampun, istighfar dan taubat kepada Allah,” tuturnya.
Ia juga mengajak masyarakat menyelesaikan berbagai persoalan atau sengketa dengan sesama agar tidak terus menjadi sumber permusuhan.
“Selain itu, selesaikan sengketa antar sesama dan perbanyak sedekah. Kita berharap Allah menurunkan hujan yang membawa rahmat untuk kita semua,” pungkasnya.
Achmad berharap musim kemarau tidak hanya menjadi momentum bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap karhutla, tetapi juga menjadi pengingat agar manusia semakin peduli terhadap lingkungan, sesama, serta memperbaiki hubungan dengan Tuhan.
(Jimmy)











