PALANGKA RAYA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah masih melakukan pendataan terhadap keberadaan dan kondisi sumur bor yang telah dibangun untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah Agustan Saining mengatakan, sumur bor di Kalteng dibangun oleh sejumlah pihak, termasuk Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), serta Dinas Kehutanan.
“Kalau berkisar 3.000 sampai 4.000 sumur bor, mungkin ada yang sudah dibangun. Tetapi sampai saat ini kami belum melakukan pengecekan secara keseluruhan, mana yang masih operasional dan mana yang belum,” ucapnya, Kamis 20 Agustus 2026.
Pihaknya saat ini masih mengumpulkan data dari sejumlah pihak, termasuk jaringan mantan personel BRGM, untuk memastikan jumlah serta kondisi sumur bor yang tersebar di berbagai wilayah Kalteng.
“Pendataan tersebut dinilai penting untuk mengetahui kesiapan sumber air yang dapat dimanfaatkan ketika terjadi karhutla, terutama di tengah kondisi cuaca yang relatif kering,” tambahnya.
Terkait pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), menjelaskan bahwa kegiatan tersebut masih bergantung pada keberadaan awan yang cukup aktif.
“Kalau OMC sebenarnya menunggu awan-awan aktif. Memang ada, tetapi kita melihat saat ini awan aktifnya masih belum cukup,” lanjutnya.
Pelaksanaan OMC sempat dilakukan selama dua hari terakhir. Namun, kondisi awan yang belum mendukung membuat hasilnya belum terlihat secara signifikan.
“Semalam memang sempat gerimis beberapa malam yang lalu, tetapi hasilnya belum nyata. Kita berdoa mudah-mudahan segera turun hujan,” tuturnya.
Selain itu berharap munculnya tanda-tanda perubahan cuaca tersebut menjadi awal turunnya hujan di wilayah Kalteng. Hujan sangat dibutuhkan untuk membantu membasahi lahan dan mengurangi risiko meluasnya karhutla.
“Kita berharap kalau sudah ada tanda-tandanya seperti itu, mudah-mudahan hujan bisa segera turun,” ungkapnya. (yud)











