PALANGKA RAYA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya masih memantau keberadaan sejumlah titik panas atau hotspot di wilayah Kalimantan Tengah, Rabu 16 September 2026.
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, Anton mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan, terdapat empat kabupaten/kota yang memiliki jumlah hotspot relatif lebih banyak dibandingkan wilayah lainnya.
“Dari hotspot yang kami pantau melalui laman BMKG, terdapat empat kabupaten dan kota dengan jumlah relatif lebih banyak, yaitu Kabupaten Kotawaringin Timur, Pulang Pisau, Kapuas, dan Kota Palangka Raya,” ucapnya Rabu 16 September 2026.
Kondisi angin yang relatif lemah disertai kelembapan udara rendah dapat menyebabkan asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) lebih mudah terakumulasi. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi jarak pandang sekaligus meningkatkan konsentrasi partikel halus PM2,5 di udara.
“BMKG juga terus memantau kualitas udara melalui sensor PM2,5 yang berada di Palangka Raya dan Pangkalan Bun. Berdasarkan pemantauan tersebut, kondisi kualitas udara di Palangka Raya tercatat lebih buruk dibandingkan Pangkalan Bun,” tambahnya.
Selain itu untuk pemantauan kualitas udara di Kalimantan Tengah, kami memiliki dua sensor PM2,5, yaitu di Palangka Raya dan Pangkalan Bun. Kondisi di Palangka Raya saat ini relatif lebih buruk dibandingkan Pangkalan Bun.
“BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi karhutla, terutama di tengah kondisi cuaca yang mendukung lahan menjadi lebih mudah terbakar,” lanjutnya.
Selain itu masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan serta segera melaporkan kepada pihak terkait apabila menemukan kebakaran atau titik api.
“Kewaspadaan dan peran aktif masyarakat dinilai penting untuk mencegah meluasnya karhutla sekaligus mengurangi dampak kabut asap terhadap kualitas udara dan aktivitas masyarakat,” ungkapnya. (yud)











