PALANGKA RAYA – Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Tengah (Kalteng), Sugiyarto, mengingatkan pemerintah daerah agar mewaspadai dampak kesehatan jangka panjang akibat paparan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Ia menegaskan, ancaman kesehatan dari krisis asap tidak bersifat instan seperti halnya pandemi Covid-19, melainkan berpotensi memunculkan masalah medis serius dalam rentang waktu dua hingga tiga tahun ke depan.
“Karena jujur saja, kalau masalah asap ini tidak seperti Covid-19. Covid sakit, besok kelihatan. Ini (jangka panjang), 2 tahun lagi (baru kelihatan sakitnya),” ujar Sugiyarto, Senin, 26 Oktober 2026.
Oleh karena itu, ia mendorong para bupati dan wali kota agar memperkuat kesiapan fasilitas kesehatan tingkat pertama, khususnya puskesmas. Langkah ini krusial untuk mengantisipasi lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) serta menyediakan kebutuhan penunjang seperti vitamin bagi masyarakat yang terdampak langsung.
Menurut Sugiyarto, peningkatan kunjungan pasien akibat ISPA umumnya tidak langsung membebani rumah sakit rujukan karena sebagian besar kasus dapat ditangani di puskesmas. Kendati demikian, aspek pencegahan dan penanganan medis jangka panjang harus dirancang secara sistematis ke dalam program daerah.
Pihaknya juga menyoroti perlunya koordinasi lintas pemerintahan dengan pusat untuk merancang intervensi program kesehatan lanjutan pada tahun anggaran 2027 dan 2028. Langkah tersebut diperlukan guna mengantisipasi risiko medis jangka panjang yang berpotensi dialami kelompok rentan, termasuk anak-anak dan balita yang terpapar kabut asap karhutla tahun ini.
“Ini harus menjadi program daerah, dan ini harus disampaikan ke pusat. Bahwa dampak ini satu, dua, tiga tahun ke depan. Apa program yang harus diturunkan ke daerah?” kata Sugiyarto.
Ia mencontohkan, risiko kesehatan seperti gangguan tumbuh kembang atau masalah medis lainnya pada anak-anak yang terpapar asap perlu diantisipasi sejak dini melalui intervensi medis yang terarah, seperti pemberian vitamin rutin maupun pemeriksaan berkala.
”Karena saya bukan orang kesehatan jadi enggak tahu. Apakah ini nanti 2 tahun lagi cucu saya yang sekarang terdampak ini nanti akan stunting? Enggak tahu kita Tapi itu bisa berdampak ke sana kalau menurut ilmu kesehatan,” pungkasnya.
(Syauqi)











