SAMPIT – Guyuran hujan dalam dua hari terakhir belum banyak mengubah kondisi air Sungai Mentaya di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Dampak kemarau panjang masih terasa, intrusi air laut menyebabkan air baku yang dimanfaatkan Perumdam Tirta Mentaya tetap memiliki kadar garam tinggi hingga jarak sekitar 105 kilometer dari muara yaitu ke Tanah Mas dan sekitar Kota Besi.
Salah satu warga Baamang Ardianto menyampaikan rasa air PDAM masih payau dan belum ada pengaruh dengan turunnya hujan belakangan.
“Rasanya masih payau, hujan kemarin masih rendah sehingga air sungai yang menjadi sumber air PDAM masih berasa asin,” ujarnya, Jumat 30 Oktober 2026.
Kondisi tersebut membuat air yang didistribusikan kepada pelanggan di sejumlah wilayah belum direkomendasikan untuk dikonsumsi. Masyarakat sementara hanya disarankan menggunakannya untuk kebutuhan mandi, cuci dan kakus (MCK).
Kepala Bagian Teknik Perumdam Tirta Mentaya, Edy Dyufriadi, mengatakan hasil pengukuran menunjukkan tingkat salinitas air masih mencapai 4.700 parts per million (PPM). Angka itu jauh di atas ambang batas air yang layak dikonsumsi, yakni di bawah 500 PPM.
“Karena kondisi tersebut, air yang disalurkan ke masyarakat di sejumlah wilayah mulai dari Kota Sampit di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dan Baamang hingga wilayah selatan Kotim, hanya disarankan untuk keperluan MCK,” katanya.
Menurut Edy, hujan yang turun sejauh ini belum memberikan dampak berarti terhadap kondisi Sungai Mentaya. Sebab, curah hujan lebih banyak terjadi di sekitar perkotaan Sampit, sementara wilayah hulu sungai belum mendapatkan hujan yang cukup.
Padahal, pasokan air tawar dari kawasan hulu sangat dibutuhkan untuk mendorong intrusi air laut kembali ke arah muara. Dengan meningkatnya aliran air tawar, kadar garam di sepanjang aliran sungai diharapkan berangsur menurun.
Saat ini, pengaruh air laut bahkan telah menjangkau sekitar 105 kilometer dari muara Sungai Mentaya. Kondisi tersebut sudah mencapai Kelurahan Tanah Mas hingga sebagian wilayah Kecamatan Kota Besi.
Edy menjelaskan, hujan yang turun dalam waktu singkat belum tentu langsung menambah debit air tawar di sungai. Sebagian air hujan terlebih dahulu meresap ke dalam tanah yang kondisinya masih kering setelah mengalami kemarau panjang.
Karena itu, diperlukan hujan dengan intensitas cukup tinggi dan cakupan wilayah yang lebih luas, terutama di kawasan hulu. Air yang tersimpan di tanah nantinya akan mengalir dan menambah pasokan air tawar ke Sungai Mentaya.
“Kalau hanya hujannya 10 menit ya belum. Harapan kita dengan adanya hujan ini, tanah yang saat ini masih kering bisa terisi dulu. Hujan itu tidak langsung ke sungai, dia masih mengisi yang kosong-kosong itu dulu, baru masuk ke sungai,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan diri mengonsumsi air distribusi Perumdam selama kadar garamnya masih tinggi. Penggunaan air dengan kondisi tersebut untuk diminum dikhawatirkan berdampak terhadap kesehatan.
Terlebih bagi masyarakat yang memiliki penyakit bawaan, konsumsi air dengan kadar garam tinggi berpotensi memperburuk kondisi kesehatan, termasuk berkaitan dengan tekanan darah dan gangguan pencernaan.
Untuk sementara, masyarakat diminta membatasi pemanfaatan air tersebut hanya untuk kebutuhan MCK sampai kondisi kualitas air baku kembali membaik. (Nardi)











