Gedung Serbaguna Sampit Rp149 Miliar: Jangan Cuma Megah Saat Diresmikan, Tapi Sepi Setelahnya?

IST/BERITASAMPIT - Ardianur, S.Hut Wakil Sekretaris Bidang Organisasi Partai Golkar Kotim.

Mari Kita Bahas Sambil Seruput Kopi Susu: Antara Mimpi Gedung Raksasa dan Pekerjaan Rumah yang Jangan Sampai Terlupakan

Oleh: Ardianur, S.Hut Wakil Sekretaris Bidang Organisasi Partai Golkar Kotim

Ada kabar menarik dari Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Pemerintah Kabupaten Kotim berencana membangun gedung serbaguna berkapasitas hingga 15.000 orang dengan perkiraan anggaran sekitar Rp149 miliar pada tahun 2027.

Sebuah rencana yang tentu menarik untuk dibicarakan. Kalau benar terwujud, Sampit akan memiliki fasilitas pertemuan berskala besar yang selama ini memang belum tersedia secara memadai.

Bayangkan, tabligh akbar yang menghadirkan ulama nasional, konser musik artis ibu kota, pameran pembangunan, seminar akbar, wisuda massal, sampai berbagai kegiatan masyarakat berskala besar bisa dilaksanakan dalam satu kawasan.

Tidak perlu lagi terlalu sibuk mencari lapangan, menyewa tempat yang kapasitasnya terbatas, atau waswas ketika hujan tiba-tiba turun. Penyelenggara acara juga punya pilihan tempat yang lebih representatif.

Dari sisi ekonomi, dampaknya juga bisa menjalar ke mana-mana. Pedagang makanan dan minuman, pelaku UMKM, jasa transportasi, perhotelan, hingga pekerja event bisa ikut menikmati perputaran uang ketika acara besar berlangsung.

Jadi, kalau dilihat dari sisi kebutuhan fasilitas publik dan peluang ekonomi, gagasan ini punya potensi manfaat yang patut diperhitungkan.

Namun, sambil menyeruput kopi susu, ada baiknya kita jangan hanya membayangkan megahnya gedung ketika lampu panggung menyala dan artis nasional sedang bernyanyi.

Ada beberapa hal yang menurut saya justru jauh lebih penting untuk dipikirkan sejak sekarang.

1\. Parkir Jangan Sampai Lebih Ramai daripada Acaranya

Coba bayangkan 15.000 orang datang bersamaan untuk menghadiri tabligh akbar atau konser musik nasional.

Kalau setiap keluarga membawa kendaraan sendiri, berapa ribu kendaraan yang harus ditampung?

Belum lagi kendaraan roda dua, mobil pribadi, bus rombongan, kendaraan panitia, ambulans, hingga kendaraan tamu undangan.

Karena itu, pengelolaan parkir tidak boleh menjadi pekerjaan sambilan setelah gedung selesai dibangun.

Sejak awal harus ada perencanaan kawasan parkir yang benar-benar matang. Jalur masuk dan keluar kendaraan harus dipisahkan. Area parkir motor, mobil, bus, dan kendaraan khusus harus ditentukan. Perlu pula disiapkan jalur khusus untuk ambulans, pemadam kebakaran, dan kendaraan darurat.

Jangan sampai orang datang untuk menikmati konser, tetapi justru menghabiskan dua jam mencari tempat parkir. Pulangnya malah lebih lama lagi karena kendaraan terjebak antrean.

Jangan sampai pula jalan umum di sekitar gedung berubah menjadi tempat parkir dadakan.

Gedungnya boleh berkapasitas 15.000 orang, tetapi jangan sampai kapasitas kesabaran pengunjung hanya cukup untuk 500 orang!

2\. Jangan Sampai Pengunjung Menjadi Daging Panggang

Ini juga persoalan penting.

Gedung yang mampu menampung ribuan orang, apalagi dengan desain tertutup, membutuhkan perencanaan sirkulasi udara yang serius.

Bayangkan 15.000 orang berkumpul dalam satu ruangan. Suhu tubuh manusia, pencahayaan panggung, peralatan elektronik, tata suara, serta aktivitas di dalam ruangan akan menghasilkan panas yang tidak sedikit.

Kalau ventilasi dan sistem pendingin udaranya tidak dirancang dengan baik, pengunjung bisa merasa kepanasan, sesak, dan tidak nyaman.

Jangan sampai orang datang menghadiri tabligh akbar untuk mendapatkan kesejukan rohani, tetapi pulang membawa pengalaman seperti sedang mengikuti acara pemanggangan daging. Hehehe…

Karena itu, desain gedung harus memperhatikan kapasitas pendingin udara, pertukaran udara segar, exhaust system, tinggi plafon, kualitas akustik, dan pengaturan suhu sesuai jumlah pengunjung.

Jangan hanya menghitung berapa banyak kursi yang bisa dimasukkan, tetapi hitung juga berapa banyak udara segar yang harus tersedia.

Keselamatan dan kenyamanan manusia harus menjadi prioritas.

3\. Gedung Besar Harus Punya Manajemen Acara yang Besar Pula

Gedung serbaguna bukan sekadar bangunan beratap besar dengan panggung megah.

Harus ada sistem pengelolaan yang profesional.

Pengaturan kapasitas pengunjung, pintu masuk dan keluar, jalur evakuasi, keamanan, toilet, ruang kesehatan, ruang ibadah, hingga pengelolaan sampah.

Untuk kegiatan konser musik nasional, misalnya, harus tersedia standar pengamanan dan pengaturan penonton yang memadai.

Untuk tabligh akbar, harus dipikirkan pula akses jamaah lanjut usia, penyandang disabilitas, tempat wudu, serta fasilitas ibadah.

Jangan sampai gedungnya berstandar nasional, tetapi pengelolaannya masih menggunakan standar kumpul-kumpul di halaman rumah.

4\. Jangan Hanya Membangun, Pikirkan Juga Siapa yang Akan Menghidupkan

Nah, ini yang menurut saya paling penting.

Membangun gedung dengan anggaran Rp149 miliar tentu membutuhkan perencanaan matang. Tetapi biaya pembangunan bukanlah akhir dari pengeluaran.

Setelah gedung berdiri, masih ada biaya listrik, pendingin udara, kebersihan, keamanan, pemeliharaan bangunan, perawatan fasilitas, gaji petugas, hingga perbaikan peralatan.

Pertanyaannya, siapa yang akan mengelola?

Apakah dikelola langsung oleh pemerintah daerah, dibentuk badan pengelola khusus, atau melalui kerja sama dengan pihak profesional?

Bagaimana sistem penyewaan gedungnya? Berapa tarifnya? Bagaimana agar masyarakat, organisasi keagamaan, komunitas seni, pelaku UMKM, dan penyelenggara kegiatan bisa memanfaatkannya dengan mudah?

Harus ada kalender kegiatan tahunan dan strategi pemasaran agar gedung tidak hanya ramai saat peresmian.

Sebab bangunan yang bagus tetapi tidak memiliki kegiatan rutin lama-kelamaan bisa menjadi beban anggaran.

Kita tentu tidak ingin gedung yang dibangun dengan uang rakyat akhirnya hanya menjadi tempat burung bersarang dan kelelawar mengadakan rapat bulanan.

5\. Belajar dari Pengalaman Gedung Expo Sampit

Ini bagian yang rasanya perlu mendapatkan perhatian khusus.

Kita tentu masih ingat persoalan pembangunan Gedung Expo Sampit yang menjadi perkara hukum.

Berdasarkan pemberitaan dan keterangan aparat penegak hukum, proyek Gedung Expo yang menggunakan APBD 2019–2020 mengalami persoalan pelaksanaan pekerjaan dan berdasarkan audit investigatif BPK disebut menimbulkan kerugian negara sekitar Rp3,5 miliar. Perkara tersebut juga telah menyeret sejumlah pihak ke proses hukum.

Ini bukan berarti setiap proyek pembangunan gedung harus dicurigai. Tetapi pengalaman tersebut semestinya menjadi pelajaran penting bagi semua pihak.

Jangan sampai rencana pembangunan gedung serbaguna yang jauh lebih besar justru mengulang persoalan yang sama.

Karena itu, sejak tahap perencanaan harus ada transparansi dan pengawasan yang ketat.

* Perencanaan teknis harus benar-benar matang dan melibatkan tenaga ahli yang kompeten.

* RAB harus realistis dan dapat dipertanggungjawabkan.

* Proses tender harus transparan dan sesuai ketentuan.

* Pengawasan pekerjaan harus independen dan profesional.

* Kualitas material dan hasil pekerjaan harus sesuai spesifikasi.

* Pembayaran harus berdasarkan progres pekerjaan yang benar-benar terverifikasi.

* DPRD, aparat pengawasan internal, dan masyarakat harus memiliki ruang untuk melakukan pengawasan.

Jangan sampai gedungnya berdiri megah, tetapi kemudian menyisakan persoalan hukum dan membuat orang-orang yang terlibat harus berhadapan dengan proses pidana.

Uang rakyat harus dijaga, begitu juga masa depan orang-orang yang diberi tanggung jawab mengelolanya.

6\. Rp149 Miliar, Apakah Manfaatnya Sebanding?

Ada satu hal yang juga patut menjadi bahan diskusi masyarakat.

Rp149 miliar bukan angka kecil untuk ukuran APBD Kabupaten Kotim.

Maka, pemerintah perlu membuka perhitungan manfaat dan biaya secara transparan.

Berapa target kegiatan setiap tahun? Berapa potensi pendapatan sewa? Berapa biaya operasional tahunan? Berapa kebutuhan biaya pemeliharaan dalam 10 sampai 20 tahun ke depan?

Apakah gedung ini juga bisa menjadi pusat kegiatan ekonomi kreatif, pameran produk lokal, promosi pariwisata, festival budaya, dan kegiatan UMKM?

Kalau hanya mengandalkan konser besar dan tabligh akbar yang berlangsung beberapa kali dalam setahun, tentu perlu dihitung kembali bagaimana gedung itu akan dimanfaatkan pada hari-hari biasa.

Satu hal lagi, masyarakat juga perlu mendapatkan penjelasan mengenai kapasitas final bangunan. Sebab sejumlah pemberitaan menyebut kapasitas 15.000 orang, sementara pemberitaan lain menyebut rancangan kapasitas sekitar 5.000–7.000 orang. Perbedaan ini perlu diperjelas melalui dokumen perencanaan resmi.

Jangan sampai angka kapasitasnya besar dalam pemberitaan, tetapi berbeda ketika gambar teknis dan bangunannya selesai.

7\. Penutup: Jangan Cuma Bangga Punya Gedung, tetapi Banggalah karena Gedung Itu Bermanfaat

Pada akhirnya, saya kira rencana pembangunan gedung serbaguna ini perlu dibicarakan secara terbuka dan konstruktif.

Kita tidak sedang memperdebatkan perlu atau tidaknya pembangunan semata. Kita sedang membicarakan bagaimana sebuah investasi besar dari uang rakyat benar-benar memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat Kotawaringin Timur.

Kalau dirancang dengan baik, gedung ini bisa menjadi pusat kegiatan masyarakat, pusat hiburan, pusat dakwah, pusat pameran, sekaligus penggerak ekonomi lokal.

Tetapi kalau perencanaannya tidak matang, pengelolaannya tidak jelas, dan pemanfaatannya tidak terukur, gedung sebesar apa pun berpotensi menjadi beban daerah.

Pemerintah jangan hanya sibuk memikirkan bagaimana membangun gedungnya, tetapi juga harus memikirkan bagaimana menghidupkannya.

Jangan sampai saat peresmian semua pejabat tersenyum lebar, karangan bunga berjejer, kamera televisi menyala, dan masyarakat bertepuk tangan.

Namun, beberapa tahun kemudian, gedungnya sepi, biaya listrik terus berjalan, fasilitas mulai rusak, dan masyarakat hanya mengenangnya sebagai bangunan mahal yang jarang digunakan.

Kita tentu tidak menginginkan cerita seperti itu terulang.

Rp149 miliar harus menghasilkan lebih dari sekadar bangunan. Harus ada manfaat ekonomi, manfaat sosial, manfaat budaya, dan manfaat nyata bagi masyarakat.

Jadi, sebelum semen pertama dicampur dan tiang pertama didirikan, mari kita pastikan semuanya sudah dipikirkan dengan matang.

Mulai dari parkir, sirkulasi udara, keselamatan pengunjung, pengelolaan, biaya pemeliharaan, sampai pengawasan anggaran.

Sebab membangun gedung itu mungkin bisa selesai dalam satu atau dua tahun. Tetapi menjaga agar gedung itu tetap hidup, bermanfaat, dan tidak menjadi masalah di kemudian hari adalah pekerjaan yang jauh lebih panjang.

Sudah dulu. Kopi susunya hampir habis.

Semoga gedung serbaguna Kotim nantinya bukan hanya megah dilihat dari luar, tetapi juga nyaman di dalam, ramai kegiatan, sehat pengelolaannya, dan bersih pertanggungjawabannya.

Jangan sampai gedungnya menjadi kebanggaan saat dibangun, tetapi menjadi penyesalan setelah ditinggalkan.

Salam seruput kopi susu!

baca juga ...  Sanidin-Siyono Pastikan Kesetaraan Gender dalam Peningkatan SDM di Kotim
Bagikan:
Berita Populer