SUKAMARA – Kepala Lapas Kelas III Sukamara, Joko Prayitno mengatakan bahwa dalam program ketahanan pangan nasional yang digalakkan pihaknya menggandeng warga binaan pemasyarakatan (WBP) dalam program pembinaan kemandirian.
“Ini adalah program pembinaan kemandirian yang melibatkan warga binaan yang telah melalui beberapa seleksi dan program integrasinya sudah berjalan itulah yang kita bina,” terang Joko Prayitno usai panen jagung dan cabai di Lapas Sukamara, Rabu 12 Maret 2025.
Joko Prayitno berharap dengan program pembinaan kemandirian tersebut dapat menjadikan warga binaan yang nanti kembali ketengah-tengah masyarakat bisa bermanfaat dan tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama
“Harapannya sesuai arahan pak Kakanwil bahwa dia adalah manusia yang bermasalah tapi ketika keluar dari lapas, harus bisa menciptakan kebaikan ditengah masyarakat, khususnya dalam bidang pertanian dan perkebunan yang sudah kita bangun dan mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah,” terang Joko Prayitno.
Joko Prayitno juga menjelaskan bahwa setiap warga binaan yang mengikuti program pembinaan kemandirian khususnya dibidang pertanian, pihak Lapas Sukamara memberikan premi untuk hasil kerja keras tersebut yang disetorkan ke masing-masing rekening pribadi milik warga binaan.
“Kita juga menyisihkan untuk jasa para warga binaan yang kita kirim ke masing-masing rekening pribadi mereka, karena setiap warga binaan telah kita siapkan buku tabungannya,” jelas Joko Prayitno.
Sementara itu, hasil panen jagung di Lapas Sukamara mencapai satu ton dengan pola tanam trip tiga kali, sedangkan untuk cabai pada panen raya ini mencapai 50 kilogram.
“Untuk jagung kita pakai pola trip tiga kali, hari ini panen, lalu seminggu lagi panen dan seminggu kemudian panen lagi laki tanam jadi tidak ada putusnya,” kata Kalapas Sukamara, Joko Prayitno.
“Kalau untuk cabai hari ini kita panen mencapai 50 kilogram dan harga jual ditingkat petani mencapai Rp 100 ribu perkilo,” jelasnya.
“Sedangkan untuk Luasan taman pada lahan ini adalah tiga hektar full tanam tidak ada ruang kosong yang tidak bermanfaat,” tukas Joko Prayitno. (enn)












