PALANGKA RAYA – Sering dikenal dengan wibawa dan tugas menegakkan aturan, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi Kalimantan Tengah kali ini tampil berbeda. Tanpa seragam tegas dan tanpa peluit, mereka hadir dengan senyum dan perhatian pada Kamis pagi, 8 Mei 2025, di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Yayasan Roti Hidup, Jalan Banteng 19, Palangka Raya.
Dalam suasana hangat, para petugas Satpol PP menunjukkan sisi peduli mereka, menyapa anak-anak dengan bingkisan penuh kasih. Ini bukan hanya tentang aturan, melainkan tentang menjalin hubungan manusiawi dengan mereka yang membutuhkan sentuhan kasih sayang. Sebuah langkah sederhana namun bermakna, yang menunjukkan bahwa Satpol PP juga memiliki sisi hangat dan peduli, jauh dari kesan yang biasanya terkesan tegas dan kaku.
Anjangsana ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan memperingati Hari Jadi ke-68 Provinsi Kalimantan Tengah yang jatuh pada 23 Mei mendatang.
Dipimpin oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi, Sri Widanarni, rombongan mewakili Gubernur H. Agustiar Sabran untuk menyampaikan pesan bahwa pembangunan bukan hanya soal infrastruktur, tapi juga kepedulian terhadap sesama.
Plt. Kepala Bidang Penegakan Perda Satpol PP Kalteng, Dedi Setiadi, hadir bersama Kepala Seksi Penegakan, Nellyana, menunjukkan komitmen bahwa kehadiran mereka di masyarakat bisa melampaui tugas-tugas formal.
“Kami ingin dikenang bukan hanya saat menegakkan aturan, tetapi juga saat berbagi dan menyentuh kehidupan,” kata Dedi seusai menyerahkan paket sembako kepada anak-anak asuh yayasan.
Di tengah deretan bangku plastik dan lantunan lagu rohani dari para penghuni yayasan, suasana penuh kehangatan terasa. Tak ada jarak antara pengunjung dan penghuni, hanya percakapan sederhana dan tatapan yang saling memahami.
Bagi Satpol PP, momen ini lebih dari sekadar kunjungan sosial. Ia menjadi cermin dari semangat pelayanan yang menyentuh nurani.
“Kami bagian dari masyarakat. Anjangsana ini mengingatkan kami pada sisi paling dasar dari tugas pemerintah: hadir, peduli, dan menguatkan,” ujar Dedi lagi.
Sementara itu, Ketua Yayasan Roti Hidup mengaku bersyukur atas kunjungan tersebut. “Anak-anak merasa diperhatikan. Ini bukan soal apa yang dibawa, tapi siapa yang datang dan menyapa mereka,” katanya lirih.
Dalam ingar-bingar peringatan hari jadi provinsi, anjangsana ini mungkin tampak sederhana.
Tapi di dalamnya tersimpan makna besar: bahwa di tengah rutinitas birokrasi dan urusan negara, selalu ada ruang untuk merangkul yang kecil, memeluk yang sunyi, dan menyalakan kembali harapan.
(Sya'ban)












