PALANGKA RAYA – Musibah banjir bandang yang melanda beberapa desa di Kecamatan Mandau Talawang, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, sejak Rabu 20 Agustus 2025, mulai berangsur surut.
Kamis 21 Agustus, Tim Rescue Kantor Pencarian dan Pertolongan Palangka Raya diterjunkan ke lokasi setelah menerima laporan dari BPBD Kabupaten Kapuas mengenai musibah tersebut.
Kepala Kantor SAR Palangka Raya, AA. Ketut Alit Supartana, memberangkatkan satu tim rescue beserta alut berupa satu unit rubber boat dan satu unit rescue car untuk membantu evakuasi warga terdampak.
“Selama 3 hari masa tanggap darurat banjir, Tim Rescue Kantor SAR Palangka Raya bersama TNI, Polri dan BPBD melakukan evakuasi terhadap warga sekitar dan membantu proses pendistribusian bantuan logistik,” ungkap Alit, Sabtu 23 Agustus 2025.
Berdasarkan hasil pemantauan tim di lapangan dan debit air yang mulai berkurang, operasi SAR tanggap darurat dihentikan dan dilanjutkan dengan pemantauan.
“Operasi SAR Tanggap Darurat Banjir di Mandau Telawang dinyatakan selesai dan ditutup, selanjutnya akan dilakukan pemantauan. Apabila terjadi peningkatan debit air dan warga memerlukan evakuasi, operasi SAR akan dilanjutkan kembali,” tutup Alit.
Sebelumnya, BPBD Kalteng bergerak cepat menanggulangi banjir yang melanda Murung Raya, Kapuas, dan Gunung Mas. Kepala Pelaksana BPBD Kalteng, Ahmad Toyib, mengatakan langkah darurat sudah disiapkan dan koordinasi dengan berbagai instansi terus dilakukan.
“Prioritas kami adalah memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi dan jalur transportasi tidak terputus terlalu lama,” kata Toyib, Kamis 21 Agustus 2025.
BPBD Kalteng menyiapkan bantuan logistik. “Untuk Kabupaten Gunung Mas, akan dikirim 90 matras dan 120 selimut. Sementara untuk Kapuas, disiapkan 120 matras, 160 selimut, dan 79 paket perlengkapan keluarga,” ujarnya.
Selain BPBD, Basarnas menyiagakan satu regu evakuasi jika diperlukan. Dinas Sosial Kalteng menyalurkan 200 paket makanan siap saji, 500 paket makanan anak, 20 kasur, dan 50 selimut.
Laporan sementara mencatat banjir terjadi sejak 20 Agustus. Hingga Kamis siang, 20 desa di 11 kecamatan terdampak. Murung Raya menjadi daerah paling parah, dengan 75 kepala keluarga, 196 jiwa, dan 42 rumah terdampak.
Tujuh fasilitas pendidikan, dua fasilitas kesehatan, satu rumah ibadah, serta tujuh akses jalan ikut terputus. Di Kapuas, 16 rumah terendam, sementara di Gunung Mas air mulai surut meski tiga kecamatan masih terdampak.
(Syauqi)












