SAMPIT – Kasus kriminal yang melibatkan perangkat desa maupun generasi muda di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menjadi perhatian serius Anggota Komisi I DPRD Kotim, Abdul Kadir.
Ia menegaskan bahwa fenomena tersebut mencerminkan krisis moral yang semakin parah dan harus segera direspons secara konkret oleh pemerintah desa.
“Kalau melihat beberapa peristiwa belakangan ini, jelas ada penurunan dekadensi moral di masyarakat. Pendidikan karakter melemah, sementara arus informasi yang tidak tersaring membentuk perilaku bebas tanpa batas,” tegas Kadir, Sabtu 11 Oktober 2025.
Menurutnya, sejumlah kasus belakangan ini mulai dari beredarnya video mesum pasangan muda, pembunuhan terhadap wanita hamil di Tualan Hulu pelakunya perangkat desa, hingga ibu muda yang tega membuang bayinya sendiri, menjadi sinyal bahwa nilai sosial dan keagamaan di masyarakat mulai terkikis.
Politisi Golkar itu menilai lemahnya pengawasan orang tua serta kurangnya peran lingkungan sekolah membuat generasi muda mudah terpengaruh budaya instan dan konten negatif di media sosial.
“Informasi tidak difilter, baik oleh anak-anak maupun orang tua. Akibatnya, anak-anak jadi lepas pengawasan dan kehilangan arah. Pergaulan bebas dianggap biasa, padahal itulah akar dari banyaknya tindakan menyimpang, bahkan sampai pada pembunuhan,” ujarnya.
Kadir menegaskan, penanganan tidak bisa hanya diserahkan kepada aparat penegak hukum. Ia menekankan bahwa desa harus menjadi benteng moral bagi masyarakat dan generasi muda.
“Tolong setiap desa di Kotim jaga generasi muda kita. Mereka adalah pilar masa depan. Jangan sampai anak-anak kita hanya jadi penonton di tanah sendiri,” serunya.
Ia juga meminta agar pemerintah desa bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD) membangun kerja sama nyata dalam mencegah peredaran narkoba, judi online, dan perilaku destruktif lainnya. (nardi)












