SAMPIT – Jeritan para petani kelapa kembali bergema dari wilayah selatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Di Desa Regei Lestari, Kecamatan Teluk Sampit, harga kelapa yang merosot tajam membuat para petani dan pekerja kelimpungan menyambung hidup.
Ariansah, salah seorang petani yang menggantungkan nafkah keluarganya dari kebun kelapa, mengaku terpukul. Ia mengatakan harga kelapa kini berada pada titik paling rendah dalam beberapa bulan terakhir.
“Harga kelapa perbiji Rp 2000 sampai Rp 2.500,” kata Ariansah pada Jumat 21 November 2025.
Keluhan serupa disampaikan Darmawan. Ia menyebut harga kelapa acap kali tidak stabil, terutama memasuki akhir tahun. Menurutnya, kondisi ini selalu berulang dan belum ada solusi nyata.
“Kalo sudah dekat tahun baru atau bulan puasa harga kelapa pasti turun, pemerintah perhatikan kami agar harga kelapa bisa stabil,” ujarnya.
Tak hanya petani, salah seorang pekerja berinisial IR, yang bertugas mengupas kulit kelapa juga mengeluhkan hal yang sama. Dampak dari anjloknya harga kelapa sangat berpengaruh kepada upah pekerjaan mereka.
“Kami dibayar Rp170 ribu per seribu biji yang saya kupas. Jika harga kelapa turun maka upah kami juga turun,” ujarnya, sambil menceritakan bahwa ia bekerja dibantu sang istri.
Para petani dan pekerja berharap peran pemerintah sehingga harga kelapa bisa stabil. “Paling tidak Rp4 ribu satu buah, itu sudah sedang,” harapnya.
Kepala Desa Regei Lestari, Saprudin, turut angkat suara. Ia menegaskan kondisi ini tidak bisa lagi dianggap sepele.
“Harga kelapa di petani terjun payung dan tidak ada perhatian serius dari pemerintah,” tegas Kades yang akrab disapa Icap itu.
(Utomo)












