SAMPIT – Dinas Perhubungan Kotawaringin Timur (Kotim) sempat mengusulkan pemindahan lokasi road race sebagai jalan tengah atas polemik penyelenggaraan event tersebut di kawasan Taman Kota Sampit.
Hal ini disampaikan Kepala Dinas Perhubungan Kotim, Raihansyah saat hadir dalam rapat koordinasi even road race taman kota Sampit bersama pihak panitia dan gereja, Selasa 9 Desember 2025.
Ia menyampaikan alternatif lokasi untuk mengurangi potensi gangguan terhadap aktivitas ibadah, pelayanan kesehatan, maupun kegiatan masyarakat di sekitar Jalan Yos Sudarso, yaitu dialihkan ke kawasan sekitar GOR Habaring Hurung Jalan Ais Nasution dan A Yani memutar di sekitar GOR.
Raihansyah mengungkapkan ini hanyalah saran opsi yang dapat dipertimbangkan jika harus dipindah, cari lokasi yang tidak mengganggu klinik, gereja dan lainnya.
Dishub juga menawarkan opsi agar road race Sampit yang mengunakan embel kata Gubernur Cup maka dipindahkan pelaksanaannya ke Sirkuit Sabaru Palangka Raya, namun IMI Kotim tetap menjadi penyelenggara.
Hal itu dinilai realistis mengingat waktu pelaksanaan tinggal hitungan hari dan rombongan pembalap dari luar daerah sudah dalam perjalanan menuju Kotim.
Kedua usulan ini dianggap dapat menjaga nama baik daerah daripada dibatalkan dan bisa menimbulkan preseden buruk, karena pihak yang keberatan hanyalah masalah lokasi, bukan event balapnya.
Ketua IMI Kotim, Angga Aditya Nugraha pada kesempatan itu memaparkan bahwa untuk memindahkan lokasi roadrace ke sirkuit Sabari Palangka Raya tidak memungkinkan karena sudah tidak boleh ada even balap lagi hingga Porprov 2026 di sirkuit Sabaru.
“Jadi itu sesuai dengan kesepakatan sirkuit Sabaru tidak boleh digunakan lagi, hingga nanti dipakai untuk acara Porprov 2026,” kata Angga.
Kemudian untuk opsi pindah lokasi, penyelenggaraan sirkuit road race memerlukan standar teknis tertentu yang harus sesuai aturan nasional dan mempertimbangkan segi teknis dan keamanan.
Menurutnya, karakter lintasan di Taman Kota selama ini masih memenuhi syarat teknis balapan, termasuk kecepatan maksimal dan titik pengereman. Hal itu sudah diperhitungkan dalam rute taman kota.
Jika mengganti rute baru maka tidak memungkinkan karena aspal tidak standar dan belum diuji kelayakan keamanan.
Namun Angga memastikan IMI Kotim terbuka terhadap aspirasi Gereja Katolik, fasilitas kesehatan, maupun masyarakat yang terganggu aktivitasnya. Ia menyatakan siap menyesuaikan teknis jika event tetap digelar di Taman Kota.
“Kami sepakat soal akses khusus untuk gereja dan klinik, tidak pakai sound system, garis start dipindahkan dan jam kegiatan akan disesuaikan. Kita cari jalan tengah tanpa merugikan siapa pun,” ucapnya.
Panitia mengemukakan bahwa lokasi tersebut memiliki jarak lintasan sesuai kebutuhan serta mampu menampung jumlah penonton dan pelaku UMKM yang diperkirakan membludak. Mereka mengklaim antusias penonton sampai 10 ribu sehingga jika lokasi dipindahkan maka akan sulit mengatur penonton.
Penataan pedagang dan jalur UMKM di sekitar eks Mentaya dan Inhutani sudah disiapkan. Panggung kehormatan dan VIP juga tidak akan ditempatkan di depan fasilitas kesehatan.
Solusi alternatif dikemukakan yaitu memindahkan garis start dan finish ke Jalan S Parman sisi selatan taman kota, asalkan akses keluar-masuk Rumah Sakit Terapung tetap terjamin steril dan bebas penonton.
(Nardi)












