SAMPIT – Di tengah arus modernisasi yang kian deras, tradisi malamang milik Suku Dayak Kalimantan Tengah tetap bertahan dan hidup. Melalui Festival Budaya Habaring Hurung (FBHH) yang digelar pada Rabu 7 Januari 2025, masyarakat Dayak kembali menegaskan komitmennya menjaga warisan leluhur agar tidak tergerus zaman.
Malamang bukan sekadar aktivitas memasak, melainkan ritual budaya yang sarat makna. Olahan nasi ketan yang dicampur santan dan garam ini dimasukkan ke dalam bambu berlapis daun pisang, lalu dipanggang di atas bara api hingga matang. Prosesnya membutuhkan ketelatenan dan pengalaman agar menghasilkan lamang yang sempurna.
“Proses malamang membutuhkan waktu dua hingga tiga jam. Saat memasak lamang bara api harus pas, kalau kebesaran justru bambunya yang gosong, dan hasilnya tidak bagus,” kata salah seorang peserta FBHH dari Kecamatan Seranau, Yanto.
Yanto mengatakan malamang merupakan tradisi yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Dayak. Tradisi tersebut tidak sekadar membuat makanan khas, tetapi kental dengan nilai kebersamaan, gotong royong, dan kekeluargaan.
“Malamang atau membuat lamang adalah tradisi masyarakat adat Dayak Kalteng. Biasanya dibuat saat ada upacara atau ritual adat, dan lamang hampir selalu ada,” ujarnya.
Yanto juga mengungkapkan, tradisi malamang kini mulai jarang dilakukan di wilayah perkotaan. Meski demikian, di sejumlah kecamatan yang ada di Kotim tradisi ini masih terus dijalankan dan tidak ditinggalkan oleh masyarakat.
“Untuk di wilayah perkotaan, malamang sudah sangat jarang dilakukan. Tapi di kecamatan-kecamatan pelosok warga di sana masih melaksanakan dan tidak meninggalkan tradisi itu. Karena untuk upacara atau ritual adat cukup sering diadakan di sana,” katanya.
Tradisi malamang diharapkan tidak tergerus oleh waktu, tetap lestari dan dikenal oleh generasi muda. Tidak hanya sebagai makanan khas Dayak, lamang juga memiliki makna penting sebagai bagian dari upacara dan ritual adat yang masih hidup di tengah masyarakat.
(Utomo)












