SAMPIT – Program Creative Youth Center yang sempat digaungkan sebagai salah satu janji politik untuk pemuda dinilai belum menunjukkan kemajuan berarti hingga hampir satu tahun berjalan. Kondisi ini menuai kritik dari kalangan pemuda di Kabupaten Kotawaringin Timur, yang menilai program tersebut masih sebatas wacana tanpa realisasi konkret.
Ketua Umum Komunitas Pemuda Peduli Masyarakat (KPPM) Muhammad Ridho menyatakan kekecewaannya karena hingga kini tidak terlihat kejelasan tahapan pelaksanaan, arah kebijakan, maupun roadmap program yang bisa diakses publik, khususnya komunitas pemuda.
“Sudah hampir satu tahun berlalu, tetapi yang terlihat hanya narasi. Tidak ada kerja nyata yang bisa dirasakan pemuda. Ini bukan soal kurang sabar, tetapi soal janji publik yang tidak ditepati,” tegasnya, Senin 26 Januari 2026.
Menurut KPPM, Creative Youth Center yang sejak awal dipromosikan sebagai simbol keberpihakan terhadap generasi muda justru terkesan mandek dan kehilangan arah. Minimnya transparansi dan tidak adanya ruang partisipasi bagi komunitas pemuda lokal memperkuat anggapan bahwa program tersebut belum dikelola secara serius.
KPPM juga menilai kondisi ini mencerminkan pola politik lima tahunan, di mana janji disuarakan kuat saat masa kampanye, namun perlahan menghilang setelah sorotan publik mereda. Program yang seharusnya menjadi ruang tumbuh dan kolaborasi pemuda itu dinilai berpotensi hanya menjadi alat branding politik tanpa tanggung jawab kebijakan yang jelas.
“Jika sebuah program membutuhkan waktu hampir satu tahun hanya untuk bertahan di tahap wacana, publik wajar bertanya, ini benar-benar program pembangunan atau sekadar bahan kampanye?” lanjutnya.
Lebih jauh, KPPM menyoroti tidak adanya pelibatan aktif pemuda Kotawaringin Timur dalam perencanaan maupun pengembangan program tersebut. Tanpa keterlibatan langsung generasi muda, Creative Youth Center dinilai hanya akan menjadi nama kosong tanpa isi dan tanpa jiwa.
KPPM menegaskan bahwa pemuda tidak membutuhkan janji berulang, slogan kreatif, atau proyek simbolik. Yang dibutuhkan adalah kejelasan, transparansi, serta keberanian politik untuk menepati komitmen yang sudah disampaikan kepada publik.
“Kami tidak menuntut hal muluk. Kami hanya menuntut kejujuran dan tanggung jawab. Jika memang belum siap, sampaikan apa adanya. Jangan biarkan pemuda terus digantung oleh janji,” tegas Ketua Umum KPPM.
Menjelang momentum Pilkada 2024, KPPM mengingatkan seluruh kandidat agar tidak kembali menjual isu Creative Youth Center sebagai komoditas elektoral sebelum ada capaian yang jelas, evaluasi terbuka, serta komitmen keberlanjutan yang dapat diawasi publik.
KPPM memastikan akan terus mengawal dan mengkritisi setiap janji politik yang mengatasnamakan pemuda. Menurut mereka, masa depan generasi muda Kotim terlalu berharga untuk dikorbankan demi kepentingan kekuasaan jangka pendek.
“Satu tahun tanpa progres adalah alarm keras. Pemuda tidak lupa, dan publik tidak bodoh,” pungkasnya. (Nardi)












