Janji Manis Pemerintah Buat Petani Perlahan Mati!

IST/BERITASAMPIT - Ilustrasi.

SAMPIT – Polemik dugaan penyimpangan dalam penyaluran pupuk subsidi memicu kemarahan petani salah satunya di Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit, yang menjadi tumpuan sektor pertanian di Kotim selama ini.

Namun keluhan ini memuncak, memunculkan pertanyaan besar soal sejauh mana keberpihakan pemerintah daerah terhadap nasib petani. Bahkan ancaman alih fungsi lahan mereka sampaikan jika pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan yang krusial saat ini. Jika tak ada jalan keluar perlahan petani akan mati dan bahkan tidak mungkin bakal beralih bertanam sawit seperti yang mereka sampaikan belum lama ini.

Meski Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Timur (Kotim) membantah adanya penyelewengan, keresahan di lapangan dinilai belum sepenuhnya terjawab.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kotim, Permata Fitri, menegaskan bahwa isu pupuk subsidi dijual ke perkebunan kelapa sawit tidak benar. Ia menyebut keributan yang terjadi di Lampuyang murni akibat salah paham antara petani dan pihak kios pupuk.

“Tidak ada penjualan pupuk subsidi ke perkebunan sawit. Itu hanya kesalahpahaman di lapangan,” ujar Permata Fitri, Rabu 28 Januari 2026.

Ia menjelaskan, tata kelola pupuk subsidi saat ini telah diatur secara melalui Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2025. Distribusi pupuk dilakukan dengan mekanisme berlapis dan berbasis sistem digital untuk mencegah penyimpangan.

Menurut Fitri, pupuk subsidi hanya diperuntukkan bagi petani dengan komoditas tertentu, yakni padi, jagung, kedelai, ubi kayu, bawang merah, bawang putih, cabai, kopi, tebu, dan kakao. Data petani dan luasan lahan diinput ke dalam sistem elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK) oleh admin di tingkat kecamatan.

“Data tersebut kemudian diverifikasi untuk menentukan alokasi pupuk subsidi. Saat penebusan di kios, data kembali dicek melalui aplikasi Ipuber,” jelasnya.

baca juga ...  Kasus HIV di Kotim Meningkat, KPA Ingatkan Remaja Bahaya Pergaulan Bebas

Ia mengakui proses berlapis tersebut membutuhkan waktu dan kesabaran, namun menurutnya justru dirancang agar pupuk subsidi benar-benar tepat sasaran. Permata menduga ketidaksabaran dan miskomunikasi di lapangan menjadi pemicu ketegangan yang terekam dalam video viral tersebut

Namun hal itu berbanding terbalik dengan yang disampaikan petani, kesulitan mendapatkan pupuk terus menerus terjadi

Ironisnya itu terjadi saat mereka membutuhkan pupuk, ancaman gagal panen selalu menghantui mereka, belum lagi pemasaran gabah yang dinilai sulit dan harga tidak selalu berpihak kepada mereka. (Nardi)

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!