5 Fakta Menarik Kawasan Pusat Perbelanjaan Mentaya Sampit

UTOMO/BERITA SAMPIT - Kawasan Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) Sampit.

SAMPIT – Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) Sampit pernah menjadi denyut nadi ekonomi rakyat di Kota Sampit, Kabupaten Timur (Kotim). Sejak berdiri pada era 1970-an, pasar legendaris ini menjadi tumpuan warga untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan hingga transaksi emas. Namun seiring waktu, kejayaan itu perlahan memudar. Beragam persoalan kini mencuat dan menjadi sorotan publik. Berikut lima fakta menarik yang menggambarkan kondisi terkini PPM Sampit:

1. Kios Kosong Jadi Pemandangan Umum

Deretan kios yan tutup dan kosong di PPM Sampit disebabkan oleh sepinya pengunjung dan penurunan pendapatan para pedagang, terutama di lantai dua yang didominasi oleh pedagang pakaian.

Maraknya toko serba Rp35 ribu di berbagai sudut kota menjadi pesaing berat. Di sisi lain, minimnya inovasi dan strategi dari pemerintah daerah untuk menghidupkan kembali PPM semakin mempercepat kemunduran pasar rakyat ini.


2. Kebersihan Buruk, Warga Enggan Datang

Kebersihan di PPM dinilai sangat buruk, bangunan terkesan sangat kumuh, kotor dan berbau. terutama di area pasar ikan. Pengelolaan sampah dan limbah yang tidak optimal membuat aroma tak sedap kerap tercium.

Situasi ini mendorong warga beralih ke pasar alternatif yang lebih bersih dan tertata. Hingga kini, Pemkab Kotim dinilai belum menunjukkan langkah tegas untuk menata ulang PPM, termasuk realisasi janji pembentukan perusahaan daerah pengelola pasar yang sempat disampaikan Bupati Kotim, Halikinnor.


3. Pungutan Liar Masih Menghantui

Praktik pungutan liar (pungli) yang terjadi di PPM menjadi salah satu faktor yang menyebabkan pelanggan malas untuk datang berbelanja.

Sempat mencuat, tarif parkir kendaraan roda empat dipatok hingga Rp10 ribu oleh oknum tak bertanggung jawab. Lemahnya pengawasan membuka celah terjadinya praktik ilegal yang berdampak langsung pada minat belanja masyarakat.


4. Toko Emas Tetap Bertahan dan Ramai

Di tengah lesunya sektor lain, pedagang emas justru masih bertahan dan relatif ramai. Budaya masyarakat Sampit yang menjadikan emas sebagai instrumen investasi aman sekaligus perhiasan membuat transaksi tetap bergulir.

Fluktuasi harga emas sebagai monentum untuk membeli atau menjual. Saat harga emas turun baik karena ekonomi atau jenuh pasar, warga justru berbondong-bondong membeli. Sebaliknya jika membutuhkan dana dan harga naik mereka menjualnya kembali.

Faktor ekonomi lokal juga menjadi salah satu penyebab ramainya toko emas. Meskipun sempat berdampak pada ekonomi, kebutuhan akan emas di Sampit tetap bertahan sebagai tabungan berharga.

Beberapa toko memberikan souvenir menarik seperti tas belanja atau barang elektronik, yang meningkatkan antusiasme pengunjung.


5. Fasilitas Rusak Perparah Kondisi Pasar

Kerusakan fasilitas menjadi persoalan serius di PPM. Jalan berlubang, dan sering tergenang air terutama di pintu keluar-masuk depan pasar ikan, menyulitkan pembeli dan pedagang.

Selasar pasar yang jarang dibersihkan serta aroma amis dari aktivitas bongkar muat ikan semakin memperburuk citra pasar legendaris ini. Jika dibiarkan, kondisi tersebut dikhawatirkan kian mematikan aktivitas perdagangan di PPM Sampit.

(Utomo)

baca juga ...  Dana Hibah Pilkada Rp40 Miliar Disidik, Komisioner KPU Kotim Dipanggil Ulang
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!