Datang Terlambat, Pasien Kanker di Kalteng Didominasi Stadium Lanjut

IST/BERITASAMPIT - ilustrasi.

– Rendahnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri sejak dini membuat sebagian besar pasien kanker di (Kalteng) datang ke rumah sakit dalam kondisi sudah stadium lanjut. Kondisi ini menjadi tantangan serius dalam penanganan kanker di daerah tersebut.

Kepala Dinas Provinsi , Suyuti Syamsul, mengungkapkan bahwa berdasarkan data Dinas , lebih dari 4.000 warga Kalteng telah terdiagnosis kanker. Namun, hanya sebagian kecil yang sejak awal menjalani penanganan secara optimal.

“Di catatan kami kurang lebih ada 4.000-an, tapi selama ini yang keluar untuk radiasi sedikit karena kami baru mulai membuka layanan radiasi. Sekarang sudah mulai diperiksa di sini,” ujar Suyuti di RSUD Doris Sylvanus, , Rabu, 4 Februari 2026.

Menurut Suyuti, persoalan utama bukan pada ketersediaan layanan semata, melainkan pada perilaku masyarakat yang cenderung menunda pemeriksaan . Akibatnya, pasien baru datang saat kanker sudah berkembang ke stadium yang lebih berat.

“Kendalanya di kesadaran masyarakat. Rata-rata yang datang sudah tahap lanjut. Padahal kalau datang saat masih stadium satu, lebih mudah, mungkin hanya perlu operasi. Tapi kalau sudah stadium dua atau tiga, prosesnya lebih banyak, apalagi stadium empat,” jelasnya.

Ia menyebutkan, sebagian besar pasien kanker yang kini menjalani perawatan di RSUD Doris Sylvanus berada pada stadium dua hingga stadium tiga. Kondisi tersebut membuat proses pengobatan menjadi lebih panjang dan kompleks dibandingkan jika dilakukan sejak dini.

Suyuti menegaskan, keterlambatan pemeriksaan berisiko memperkecil peluang kesembuhan. Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat agar tidak mengabaikan gejala awal kanker dan segera memeriksakan diri ke fasilitas .

Ia mencontohkan, pada kanker payudara, deteksi awal dapat dilakukan secara mandiri melalui pemeriksaan payudara sendiri atau SADARI. Jika ditemukan benjolan atau perubahan yang tidak normal, masyarakat diminta segera mencari pemeriksaan medis.

“Kalau ada benjolan, segera periksa. Jangan menunggu sampai sakit atau parah,” ujarnya.

Selain itu, Suyuti menekankan pentingnya pemeriksaan klinis secara rutin untuk berbagai jenis kanker lainnya. Ia menilai, dan sosialisasi kepada masyarakat masih perlu terus diperkuat agar keterlambatan penanganan tidak terus berulang.

“Itu makanya perlu , kampanye, dan sosialisasi bahwa kanker itu bisa diobati, bahkan dicegah,” katanya.

Di sisi lain, Suyuti memastikan bahwa dari sisi fasilitas, layanan penanganan kanker di RSUD Doris Sylvanus kini semakin lengkap. Rumah sakit tersebut telah dilengkapi layanan bedah kanker, kemoterapi, hingga radioterapi.

“Kalau tidak bisa bedah, bisa kemoterapi. Kalau tidak bisa juga, kami maju sampai radiasi. Sekarang peralatan semakin bagus,” ungkapnya.

Sebelumnya, pasien kanker asal Kalteng harus dirujuk ke daerah lain seperti Surabaya dan Semarang untuk mendapatkan layanan radioterapi. Kondisi ini kerap menimbulkan antrean panjang dan keterlambatan pengobatan.

“Sekarang kami mulai membuka layanan ini sejak 25 Desember 2025, dengan pasien pertama 5 Januari 2026. Mudah-mudahan bisa mengurai antrean,” ujarnya.

Suyuti menjelaskan, radioterapi merupakan tahap akhir dalam penanganan kanker dan memerlukan proses pemeriksaan yang panjang. Dalam satu siklus, pasien harus menjalani sekitar 30 kali penyinaran.

“Yang sampai ke radioterapi itu saringan terakhir, jadi tidak banyak. Tapi sekarang antrean radioterapi di sini sudah tidak ada sama sekali,” katanya.

Untuk mendukung layanan tersebut, pemerintah pusat telah mengucurkan bantuan sekitar Rp100 miliar. Seluruh layanan pengobatan kanker di Kalteng, lanjut Suyuti, dapat diakses masyarakat melalui BPJS .

“Hampir 100 persen pasien kanker kita menggunakan BPJS. Itu yang kami upayakan supaya masyarakat tetap bisa berobat,” pungkasnya.

(Sya'ban)

baca juga ...  Kesbangpol Kalteng Perkuat Kewaspadaan Dini-Pemetaan Isu Strategis yang Berkembang di Daerah
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!