Penulis : Maman Wiharja (Jurnalis Senior-beritasampit.com)
Peristiwan ini terjadi di ujung bulan November 2025, tentang sebuah tragedi yang cukup Heroik, para Pekerja Migran Indonesia, di Hongkong. Tiba-tiba sebuah screenshoot media Hong Kong News Updates masuk ke hape saya. Kata Egy Massadiah salah seorang Konsultan Media, melaporkan kepada penulis di Pangkalan Bun.
Dalam laporannya Egy Massadiah, konon ada foto wanita berhijab warna oranye, mengenakan t-shirt lengan panjang motif merah-putih, dengan narasi yang sangat menyentuh:
HK fire: Dead Indonesian helper found huddled with ward hailed as selfless. The bodies of Sri Wahyuni and her 93 year-old employer were found with their arms around each other and covered in a blanket.
Artinya, (Kebakaran di Hong Kong: Pembantu asal Indonesia yang tewas ditemukan meringkuk bersama majikannya, dipuji sebagai sosok yang tidak egois. Jasad Sri Wahyuni dan majikannya yang berusia 93 tahun ditemukan dengan lengan saling merangkul dan tertutup selimut.)
“Untuk sesaat mulut saya tercekat, speechless. Membayangkan loyalitas dan dedikasi luar biasa dari seorang pekerja migran Indonesia di negeri orang,“ kata Egy Massadiah.
“Tak pelak, Sri Wahyuni adalah syuhada asal Blitar, yang niscaya membuat bangga bangsa, negara, dan keluarga di Indonesia,“ imbuh Egy.
Pikiran Egy Massadiah pun sampai sekarang masih menerawang, kalau membayangkan tragedi yang merenggut nyawa Sri Wahyuni dan majikan yang berusia 93 tahun.
Menurut Egy Massadiah, dengan adanya fenomena yang mengharukan tersebut, tiba-tiba, Mukhtarudin sebagai Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) memecah keheningan, dengan menuturkan peristiwa kebakaran 26 November 2025, melanda apartemen Wang Fuk Court di Tai Po, Hong Kong.
Sepertinya mustahil akan terjadi malapetaka, dimana lokasi distrik yang tenang di wilayah New Territories itu, tiba-tiba muncul api yang sekejab melalap menjadi tak terkendali. Sehingga Wang Fuk Court—kompleks perumahan bersubsidi dengan 8 blok menara dan 1.984 unit apartemen—dihuni kurang lebih 4.600 jiwa, mayoritas kelas menengah-bawah, hancur dilalap si jago merah.
Kebakaran itu diduga merambat cepat melalui perancah bambu dan jaring pelindung proyek renovasi. Penyelidikan otoritas setempat mengarah pada dugaan kelalaian kontraktor yang menggunakan material tidak tahan api. Namun di balik angka-angka dan laporan investigasi, ada cerita tentang manusia, tentang dedikasi, tentang pilihan paling sunyi di detik paling genting.
Masih kata Egy Massadiah, begitu mendapat laporan, menteri Mukhtarudin langsung menugaskan staf segera terbang ke “Pearl of the Orient”, (Julukan warga Hong Kong). “Berkolaborasi dengan Konsulat Jenderal RI (Kemenlu), dan otoritas setempat, Kementerian P2MI segera membuka Posko bantuan dan dukungan psikologis kepada para pekerja migran yang terdampak,“ ungkap Egy.
“Sampai di situ, saya sama sekali tidak menyela. Saya perhatikan, Menteri Mukhtarudin sedang on fire, mengisahkan tragedi kebakaran apartemen di Tai Po, Hong Kong,“ ujar Egy.
Menteri P2MI Muhktarudin, asal Kota Pangkalan Bun – Kalteng mengatakan ada sekitar 200 ribuan pekerja migran Indonesia di Hong Kong, sebagian di antaranya bekerja di Distrik Tai Po yang berada di wilayah New Territory.
Juga menyusul, data resmi Fire Services Department (FSD) menyebutkan, kebakaran hari Rabu 26 November 2025 itu, menyebabkan 160 orang meninggal dunia, dan 79 mengalami luka serius. Sedangkan pekerja migran Indonesia sebanyak 140 orang yang tinggal di area terdampak, tercatat 130 orang selamat, 1 orang sakit dan dirawat (sekarang sudah sembuh dan pulang ke Indonesia), 9 orang meninggal dunia.
Dititik inilah Negara harus bergerak lebih sistematis. Berdasarkan data per 9 Desember 2025, sembilan Pekerja Migran Indonesia yang meninggal dunia lima orang berasal dari Jawa Timur, tiga orang Jawa Tengah, dan satu orang dari Jawa Barat.
“Menteri langsung mengarahkan Direktorat Jenderal Pemberdayaan KP2MI segera melakukan penyerahan santunan kematian sebesar Rp20 jt kepada masing-masing ahli waris, dilaksanakan secara simbolis pada 12 hingga 16 Desember 2025 di berbagai kabupaten asal korban,“ ungkap Egy Massadi.
Penyerahan santunan itu tidak dilakukan secara administratif semata. Selain KP2MI, hadir pula Palang Merah Indonesia, Disnaker, BPJS Ketenagakerjaan, BP3MI, perangkat desa, camat, bahkan unsur keamanan setempat. Negara datang langsung ke rumah duka.
Menteri Mukhtarudin lalu menuturkan bahwa pada 22 Desember 2025, ia menerima kedatangan salah satu dari enam jenazah pekerja migran Indonesia dari Hong Kong. Jenazah tiba di dua terminal kargo, yakni Terminal Kargo Bandara Internasional Soekarno-Hatta, dan Bandara Internasional Juanda, Surabaya.
Mukhtarudin menyambut langsung pemulangan jenazah PMI korban kebakaran Hong Kong. Ia memastikan proses berjalan cepat, terhormat, dan bermartabat melalui kolaborasi erat antara KP2MI dan Kementerian Luar Negeri.
Ada enam jenazah yang telah dipulangkan ke tanah air di antaranya almarhumah Novita asal Indramayu (Jawa Barat), Yasmiati asal Grobogan (Jawa Tengah), Siti Fatonah asal Semarang (Jawa Tengah), Darwati asal Cilacap (Jawa Tengah), Erwati asal Malang, dan Sri Wahyuni asal Blitar, Jawa Timur.
Proses pemulangan berlangsung sampai dengan 25 Desember 2025. Berdasarkan brafaks resmi KJRI Hong Kong. Kementerian P2MI melakukan koordinasi ketibaan di cargo bandara, penyediaan ambulans BP3MI, hingga pendampingan serah-terima kepada ahli waris dan proses pemakaman. Dokumen kematian resmi diserahkan kepada keluarga sebagai bentuk kepastian hukum.
Satu per satu jenazah diantarkan ke rumah duka, kemudian di sholat jenazahkan dan acara tahlilan.
Egy Massadiah menjelaskan, Almarhumah Sri Wahyuni (42) dalam tragedi tersebut cukup heroik. Pekerja Migran Indonesia yang yang bekerja sebagai perawat lansia itu saat si jago merah mengepung apartemen, ia mengambil pilihan paling berani, tetap bersama majikannya yang berusia 93 tahun.
Alih-alih mencari selamat, pejuang ekonomi asal Blitar, Jawa Timur itu memilih tidak meninggalkan orang yang dirawatnya. Saat gedung sudah hangus dan api padam. Nampak pemandangan yang sangat mengharukan . Sri Wahyuni berdua ditemukan sudah tidak bernyawa berpelukan di kamar lantai empat. “Ini sebuah kesaksian bisu wujud pengabdian hingga detik terakhir,“ ungkap Egy.
Staf menteri Mukhtarudin yang mengantar jenazah ke rumah duka, mendapat informasi tambahan. Beberapa jam sebelum kejadian, Sri Wahyuni sempat menelepon suaminya, Sugeng Widodo.
Sugeng sempat heran mendapat telepon istri di jam kerja. Perbedaan waktu Blitar – Hong Kong yang hanya selisih satu jam, menjadikan pola komunikasi Sri Wahyuni dan keluarga relatif tidak ada kendala.
Saat menelepon suami, Sri Wahyuni mengabarkan sedang merapihkan tempat peristirahatan majikan. Tentu konteksnya bukan tempat peristirahatan terakhir. Tapi siapa sangka, telepon Sri Wahyuni kepada Sugeng Widodo adalah telepon terakhir.
Kepergian Sri Wahyuni tentu saja meninggalkan duka mendalam, namun juga warisan keberanian dan kemanusiaan. Sri Wahyuni dikenang sebagai pahlawan sunyi, seorang pekerja migran Indonesia yang di saat paling genting, memilih melindungi sesama hingga akhir hayat. (Bersambung)












