SAMPIT – Memasuki hari-hari awal bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengingatkan masyarakat Kalimantan Tengah termasuk Kotawaringin Timur (Kotim) untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan berintensitas sedang hingga lebat yang diprakirakan terjadi pada 18 hingga 20 Februari 2026. Kondisi cuaca tersebut berpeluang melanda hampir seluruh wilayah kabupaten dan kota di Kalteng.
BMKG dalam rilisnya menyebutkan, dinamika atmosfer saat ini cukup aktif dan mendukung pertumbuhan awan hujan. Pengaruh Madden–Julian Oscillation yang berada pada fase aktif, ditambah adanya belokan angin dan konvergensi di sekitar Kalteng, memperkuat proses pembentukan awan hujan di wilayah ini.
Kondisi tersebut juga diperparah oleh kelembapan udara yang relatif basah serta labilitas atmosfer lokal yang kuat. Kombinasi faktor itu berpotensi memicu hujan lebat dalam durasi singkat yang dapat disertai kilat, petir, dan angin kencang.
Sejumlah daerah diprakirakan terdampak, mulai dari Kotawaringin Barat, Sukamara, Lamandau, Kotim, Seruyan, Katingan, Gunung Mas, Murung Raya, Barito Utara, Barito Selatan, Barito Timur, Kapuas, Pulang Pisau, hingga Kota Palangka Raya. Dengan cakupan wilayah tersebut, hampir seluruh Kalteng berpeluang diguyur hujan dalam beberapa hari ke depan.
Sementara itu, kabar baik datang bagi warga Kabupaten Kotim Kepala Stasiun Meteorologi H Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, menyampaikan bahwa selama Ramadan 2026, kondisi cuaca cenderung lebih sejuk dengan dominasi hujan ringan hingga sedang.
Menurutnya, pada periode 1 hingga 10 Maret 2026, hujan ringan hingga sedang masih mendominasi wilayah Kotim. Curah hujan diprakirakan berada pada kategori menengah, yakni sekitar 200 hingga 300 milimeter sepanjang bulan Maret.
“Prakiraan hujan di bulan Maret ini masuk kategori menengah. Kemungkinan bulan Ramadan akan terasa lebih adem, mudah-mudahan tidak terlalu panas,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut diperkirakan berlangsung hingga akhir Maret. Secara umum, sifat hujan di Kotim masih tergolong normal dan sesuai dengan pola klimatologi tahunan di daerah ini.
BMKG juga mencatat, Kotim memiliki dua puncak musim hujan dalam satu siklus tahunan. Puncak pertama terjadi pada Desember 2025, kemudian curah hujan sempat menurun pada Januari dan suhu udara terasa lebih panas.
“Pada Februari dan Maret hujan kembali berangsur turun. Nanti di April akan terjadi puncak kedua musim hujan. Itu merupakan siklus tahunan di Kotim,” jelas Mulyono.
Meski demikian, BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap potensi dampak hidrometeorologi, seperti genangan air, banjir, tanah longsor, hingga pohon tumbang. Warga diminta rutin memantau informasi cuaca terbaru dari BMKG dan menyesuaikan aktivitas Ramadan agar tetap aman dan lancar. (nardi)












