PALANGKA RAYA – Menjelang sore, suasana Palangka Raya perlahan berubah. Jalanan mulai ramai, lapak-lapak takjil dipenuhi warga, dan aroma makanan berbuka menggugah selera bagi yang ingin mencari jajanan berbuka puasa.
Di tengah beragam pilihan takjil, ada satu menu yang hampir tak pernah absen dan selalu dicari dari tahun ke tahun, yakni Amparan Tatak.
Takjil khas yang satu ini sudah seperti “menu wajib” bagi sebagian warga Palangka Raya saat Ramadan. Rasanya yang manis dan gurih, berpadu dengan tekstur lembut, membuat Amparan Tatak selalu menjadi incaran pembeli di pasar wadai maupun lapak takjil musiman.
Amparan Tatak termasuk dalam kategori kue basah. Bahan utamanya sederhana, namun menghasilkan cita rasa yang khas. Terbuat dari tepung beras, santan, gula, dan pisang, takjil ini menghadirkan sensasi lembut ketika disantap, terutama saat berbuka puasa.
Di beberapa lapak, Amparan Tatak bahkan cepat habis sebelum waktu magrib tiba. Tak sedikit pembeli yang sengaja datang lebih awal untuk memastikan takjil favorit mereka tidak kehabisan.
Salah satu pembeli, Ijay, mengaku selalu mencari Amparan Tatak setiap Ramadan.
“Kue tradisional ini bukan sekadar makanan berbuka, melainkan juga membawa kenangan masa kecil. Kalau Ramadan, Amparan Tatak itu wajib. Dari dulu, dari kecil. Rasanya itu khas,”ucapnya di sela-sela mencari menu berbuka puasa, Kamis 19 Februari 2026.
Meskipun saat ini banyak pilihan takjil modern yang dijual di Palangka Raya, Amparan Tatak tetap punya tempat tersendiri di hati masyarakat.
“Sekarang banyak yang kekinian, tapi yang tradisional itu beda. Lebih ngena. Kalau makan Amparan Tatak, rasanya seperti Ramadan zaman dulu,” tambahnya.
Bagi warga, berburu takjil di bulan Ramadan bukan hanya rutinitas menjelang berbuka. Namun sudah menjadi tradisi yang menghidupkan suasana kota.
“Dari satu lapak ke lapak lain, orang-orang datang tidak hanya untuk membeli makanan, tetapi juga untuk merasakan kembali suasana Ramadan yang hangat dan penuh kebersamaan,” lanjutnya.
Di tengah ramainya pilihan menu, Amparan Tatak tetap bertahan sebagai salah satu takjil legendaris. Rasanya tidak berubah, peminatnya tidak berkurang, dan kehadirannya selalu dinanti.
“Karena bagi banyak orang di Palangka Raya, Ramadan terasa kurang lengkap jika belum mencicipi Amparan Tatak,” ungkapnya. (yud)












