RINI Sumarno menatap hamparan tanah gambut di hadapannya sore itu. Bumi Mentaya menyambutnya dengan tanah basah, jalan berlumpur yang lengket di kaki, serta air cokelat yang mengalir dari sungai kecil yang membelah desa. Air itu berwarna kuning kecokelatan karena tanah gambut, membawa jejak alam yang sejak lama menjadi rumah bagi para pendatang dan penduduk asli.
Ia masih ingat hari pertama tiba di tempat itu.
“Yakin kita bisa bertahan di sini?” tanyanya pelan kepada suaminya, menatap lahan yang masih berupa semak belukar dan tanah hitam yang lembek.
Suaminya tersenyum, menyeka keringat di dahinya. “Kita tidak datang untuk menyerah.”
Kalimat itu terus hidup dalam ingatannya.
Rini adalah seorang transmigran yang mengikuti suaminya ke tanah yang jauh dari kampung halamannya di Jawa. Hidup sebagai transmigran bukanlah perkara mudah. Semua harus dimulai dari nol. Ladang menjadi tumpuan harapan mereka.
Hari-hari berlalu dengan perjuangan yang sama. Sepulang sekolah, Rini membantu suaminya di ladang. Ia mencabuti rumput di sela-sela tanaman timun, jagung manis, kacang, kangkung, dan bayam.
“Musim depan kita tanam apa lagi?” tanyanya suatu sore.
“Selama tanah ini masih bisa ditanami, kita terus berusaha,” jawab suaminya mantap.
Ladang itu menjadi sumber penghidupan mereka. Gaji honorer yang diterimanya sebagai guru tidak seberapa hanya bisa buat tambahan beli susu si kecil. Namun, ia tetap bersyukur.
Rumah mereka berdiri tak jauh dari ladang itu. Sebuah rumah papan sederhana tipe 36 dengan dua kamar kecil di dalamnya. Rumah panggung itu bertumpu pada tiang-tiang kayu setinggi kurang lebih 1,5 meter dari tanah gambut yang lembek, seolah mengangkat diri dari genangan dan lumpur.
Tangga kayunya berderit setiap kali diinjak, seperti memberi tanda bahwa ada kehidupan yang pulang. Lantainya tersusun dari papan-papan rapat yang tetap menyisakan celah tipis bagi angin untuk masuk.
Atapnya seng bergelombang. Saat hujan turun deras, suaranya menggema keras—seperti ribuan jemari mengetuk logam tanpa jeda. Kadang terdengar seperti tabuhan genderang alam, kadang seperti bisikan panjang yang mengantar malam. Dinding papan itu kadang bergetar pelan diterpa angin, namun tetap kokoh berdiri seperti tekad penghuninya.
Di rumah itulah ia membesarkan dua anaknya.
Anak pertamanya, seorang perempuan berusia 10 tahun, gemar membaca. Ia sering duduk di ruang depan yang sekaligus menjadi ruang tamu dan ruang belajar, membuka buku di bawah cahaya lampu sederhana yang menggantung di langit-langit.
“Ibu, kalau aku besar nanti, aku ingin jadi guru seperti Ibu,” katanya suatu sore.
Rini tersenyum lembut. “Jadi apa pun boleh, Nak. Yang penting jadi orang baik.”
Sementara itu, si bungsu anak laki-laki mereka yang baru berusia satu tahun masih belajar berjalan. Ia tertatih di lantai papan, sesekali terduduk lalu bangkit lagi dengan tawa kecil yang jernih.
“Pelan-pelan…” ujar Rini sambil meraih tubuh mungil itu.
Tawa bayi itu memantul di dinding papan, menghangatkan rumah kecil itu lebih dari apa pun.
Keesokan paginya, Rini berdiri di depan kelas kecil berdinding papan yang masih menyimpan bau lembap sisa hujan semalam. Anak-anak duduk di bangku kayu sederhana. Sebagian masih membersihkan sandal dari lumpur sebelum masuk.
Hari itu, ia ingin mengajarkan sesuatu yang berbeda.
Ia mengambil kapur dan menuliskan sebuah puisi di papan tulis.
Tanah ini mungkin berat dipijak,
Namun ia menyimpan kehidupan yang tangguh.
Di antara lumpur dan hujan yang lebat,
Tumbuh harapan yang tak akan goyah.
“Coba baca bersama-sama,” katanya pelan.
Suara kecil mereka mulai terdengar, ada yang masih terbata-bata, ada yang sudah lancar.
“Anak-anak, apa yang kalian pahami dari puisi ini?”
Seorang anak laki-laki mengangkat tangan. “Bu Guru, ini tentang kita, ya? Tentang desa kita?”
“Kenapa kamu berpikir begitu?” tanya Rini sambil tersenyum.
“Karena tanahnya berat, Bu. Tapi kita tetap sekolah.”
Anak lain menimpali, “Walau jalan becek, kita tetap datang.”
Rini mengangguk bangga. “Betul sekali. Seberat apa pun keadaan, kita harus tetap belajar dan tetap bercahaya.”
Baginya, tugasnya bukan sekadar mengajar membaca dan menulis. Ia ingin menanamkan budi pekerti, sopan santun, dan etika.
“Ilmu itu penting,” katanya suatu pagi. “Tapi tanpa adab, ilmu bisa kehilangan maknanya.”
Seorang murid bertanya polos, “Kalau pintar tapi suka mengejek teman, bagaimana, Bu?”
Rini menjawab lembut, “Berarti ia belum benar-benar belajar.”
Malam itu, setelah anak pertamanya tertidur dengan buku di samping bantal dan si kecil meringkuk di kamar sebelah, Rini duduk di beranda rumah panggungnya.
Hujan kembali turun, mengetuk atap seng seperti pesan yang tak pernah putus.
Suaminya duduk di sampingnya.
“Capek?” tanyanya pelan.
Rini menggeleng. “Tidak. Selama rumah ini masih berdiri, selama anak-anak tertawa di dalamnya, aku merasa cukup.”
Ia menatap langit gelap yang luas, mendengarkan hujan yang masih berbicara di atas atap seng.
Dalam hati, ia berbisik pelan, “Kami datang membawa harapan dan cerita…”
Di belantara gambut ini, di rumah papan setinggi 1,5 meter dari tanah basah, ia bukan sekadar seorang guru.
Ia adalah pelita.












