Senja Romantis di Adonis Samad, Galeri Langit Paling Jujur di

SYA'BAN/BERITASAMPIT - Deretan mobil terparkir di tepi Jalan Adonis Samad, , menjelang matahari terbenam, Minggu 13 April 2025.

– Saat jarum jam merayap ke angka lima sore, langit di atas mulai menampilkan lukisan jingga yang memukau. Di sepanjang Jalan Adonis Samad, jalan utama menuju Bandara Tjilik Riwut, kendaraan mulai melambat. Beberapa pengendara bahkan sengaja menepi, seolah enggan melewatkan pertunjukan senja yang hanya berlangsung sekejap.

Di sana, sejumlah orang berdiri menghadap barat, bersandar pada motor mereka. Wajah-wajah itu menatap cakrawala, menanti momen yang oleh sebagian disebut “keindahan lima belas menit” saat matahari perlahan turun, menciptakan semburat warna yang menggugah rasa tenang dan kagum sekaligus.

Adonis Samad bukan sekadar jalan penghubung, melainkan telah menjelma menjadi ruang kontemplatif di tengah hiruk pikuk kota. Asphaltnya yang panjang dan mulus, ditambah langit terbuka tanpa gangguan gedung tinggi atau kabel listrik, menjadikannya tempat sempurna untuk menyapa senja.

Tak ada baliho mencolok atau suara bising truk berlalu lalang. Hanya angin sore yang lembut, aroma tanah yang masih hangat, dan bayangan pepohonan yang tampak membingkai horizon. Nuansa ini menjadikan momen senja di sana terasa sangat personal dan mendalam.

Eric, seorang mahasiswa berusia 21 tahun, mengaku hampir tiap akhir pekan menyempatkan diri ke tempat itu.

“Saya suka suasananya. Sederhana, tenang, dan selalu berubah. Kadang awannya berwarna emas, kadang ungu,” ujarnya sambil menunjukkan deretan foto yang ia ambil hanya dengan kamera ponsel, Minggu 13 April 2025.

Spot favoritnya adalah tikungan panjang dekat bundaran arah bandara. Dari titik itu, kata Eric, pemandangan sunset seperti dilukis langsung di langit.

Ia biasa datang bersama teman-temannya sambil membawa tripod dan minuman ringan. Beberapa pengunjung bahkan membawa tikar, duduk bersantai seperti piknik kilat.

baca juga ...  BMKG Ingatkan Potensi Hujan Lebat Jelang Pergantian Tahun untuk Wilayah Kalteng

Fenomena ini bukan hal baru. Dede, 25 tahun, warga Jalan G Obos, mengatakan dirinya sudah lama menjadikan tempat itu sebagai lokasi menenangkan pikiran.

“Dulu sih sepi, sekarang mulai ramai. Kadang sampai susah cari tempat parkir,” ucapnya.

Ia menyebut, selain karena panorama senja yang menawan, lokasi ini juga relatif aman dan tidak terganggu aktivitas komersial.

Meski belum ditetapkan sebagai ruang publik atau taman kota, Jalan Adonis Samad telah menjadi “tempat umum” dalam pengertian sosial.

Warga dari berbagai latar belakang, pelajar, pekerja, hingga lansia, berkumpul tanpa protokol atau fasilitas resmi.

Tidak ada bangku taman, tidak ada lampu hias. Tapi justru itu yang membuatnya terasa organik.

Para pesepeda kerap menjadikan ruas jalan ini sebagai jalur sore hari. Di sisi lain, beberapa penjual makanan ringan mulai melihat potensi tempat ini sebagai titik keramaian baru.

Meski demikian, belum ada intervensi dari pemerintah kota untuk menjadikan lokasi ini sebagai ruang publik yang terkelola.

Tidak ada marka atau papan informasi yang menjelaskan bahwa tempat ini bisa menjadi destinasi rekreasi sore hari. Para pengunjung datang dan pergi begitu saja, seolah tempat ini memang milik bersama sejak awal.

Jalan Adonis Samad bisa menjadi salah satu contohnya, di mana alam, infrastruktur, dan perilaku masyarakat bertemu tanpa perlu rekayasa kebijakan.

Kini, saat matahari perlahan turun di balik horizon, jalan itu menjadi lebih dari sekadar akses menuju bandara.

Ia telah menjelma ruang kontemplatif, tempat swafoto, lokasi nongkrong, sekaligus titik temu yang merekatkan warga dalam kesunyian sore yang syahdu.

Karena di kota ini, rupanya senja bukan hanya tentang cahaya yang redup, tapi juga tentang harapan yang menepi perlahan.

baca juga ...  Jelang Cuti Bersama Tahun Baru, Walikota Palangka Rombak 12 Jabatan Eselon II

(Sya'ban)

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!