DI ruang publik Indonesia, reputasi seorang tokoh bisa berubah sangat cepat. Sosok yang sebelumnya dipandang berani dan lantang mengkritik kekuasaan, dalam waktu singkat bisa berubah menjadi figur yang dipertanyakan konsistensinya.
Perjalanan kontroversial itu terlihat pada sosok Rismon Sianipar.
Ironisnya, istilah “end game” yang dulu sering dipakai untuk menggambarkan pertarungan politik kini justru digunakan sebagian orang untuk menggambarkan fase akhir dari konflik narasi yang melibatkan dirinya.
Awal: akademisi yang tampil berani
Nama Rismon mulai dikenal luas sebagai akademisi yang aktif berbicara di ruang publik. Dengan latar belakang teknik dan teknologi informasi, ia sering muncul dalam berbagai diskusi publik maupun kanal media sosial yang membahas isu politik nasional.
Gaya bicaranya tegas dan sering konfrontatif. Ia memosisikan diri sebagai sosok yang berani mempertanyakan berbagai hal yang menurutnya janggal dalam kekuasaan.
Bagi sebagian orang, ia terlihat sebagai figur yang berani.
Tidak sedikit yang memujinya sebagai sosok yang berani menantang narasi arus utama.
Di titik ini, citra yang terbentuk adalah tokoh kritis yang berani.
Pernyataan keras tentang pengkhianatan salah satu momen yang banyak diingat publik adalah ketika Rismon membuat pernyataan tegas dalam sebuah podcast di YouTube.
Dalam percakapan tersebut ia menyampaikan kalimat yang kemudian banyak beredar di media sosial:
“Lebih baik mati daripada dicap pengkhianat seumur hidup saya.”
Pernyataan ini memperkuat citra dirinya sebagai sosok yang dianggap memegang teguh prinsip.
Bagi sebagian pendukungnya saat itu, kalimat tersebut menjadi simbol keberanian moral—sebuah sikap yang menempatkan integritas di atas kepentingan apa pun.
Kontroversi dan perubahan persepsi
Namun perjalanan narasi di ruang publik tidak selalu berjalan lurus. Seiring waktu, berbagai polemik muncul dan posisi Rismon dalam sejumlah isu mulai memicu perdebatan.
Sebagian orang menilai sikapnya berubah.
Sebagian lagi menganggap itu sebagai dinamika biasa dalam perdebatan politik.
Tetapi di mata sebagian publik, perubahan tersebut dibaca secara keras: ketidakkonsistenan.
Di titik inilah citra yang sebelumnya positif mulai mengalami guncangan.
Titik dramatis: RJ dan permintaan maaf
Perbincangan publik semakin ramai ketika Rismon mengambil langkah restorative justice (RJ) dalam perkara yang melibatkan polemiknya.
Tidak lama setelah itu, ia juga datang ke Solo untuk menyampaikan permintaan maaf kepada Joko Widodo serta kepada Gibran Rakabuming Raka, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Presiden.
Momen ini menjadi titik dramatis dalam persepsi publik.
Bagi sebagian orang, langkah tersebut dilihat sebagai upaya meredakan konflik.
Namun bagi sebagian yang lain, peristiwa itu dianggap bertolak belakang dengan pernyataan keras yang pernah ia sampaikan sebelumnya.
Dari “Gibran End Game” menjadi “Rismon End Game”
Istilah “end game” pernah populer dalam berbagai kritik politik di Indonesia—sebuah metafora tentang fase akhir dari pertarungan narasi kekuasaan.
Namun dalam ironi ruang publik, istilah itu kini sering dipakai dengan arah sebaliknya.
Jika sebelumnya kritik diarahkan kepada tokoh lain, kini sebagian pengamat menyebut fenomena yang terjadi sebagai “Rismon End Game”—yakni ketika kepercayaan publik terhadap seorang pengkritik mulai runtuh.
Bukan lagi tentang akhir dari kekuasaan orang lain, melainkan akhir dari kredibilitas seorang tokoh di mata sebagian pendukungnya.
Kisah ini menunjukkan bahwa dalam era media sosial, reputasi bisa naik sangat cepat—tetapi juga bisa berubah dengan kecepatan yang sama.
Setiap pernyataan terekam, setiap perubahan sikap dianalisis, dan setiap langkah tokoh publik dibaca dengan berbagai tafsir.
Pada akhirnya, publik belajar satu hal penting:
dalam dunia yang penuh narasi dan emosi, konsistensi sering menjadi ukuran paling keras bagi kepercayaan.
Penulis adalah Pegiat Desa, Agrobis, Pemerhati Sosial dan Budaya












