PALANGKA RAYA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) mulai memasuki musim kemarau pada akhir Mei 2026. Kondisi kemarau tahun ini diperkirakan lebih panas dan kering dibandingkan biasanya.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, Lian Adriani, mengatakan awal musim kemarau diprediksi terjadi pada dasarian III atau sepuluh hari terakhir Mei 2026.
“Awalnya terjadi di wilayah Kapuas bagian selatan, Pulang Pisau bagian selatan, dan Katingan bagian selatan,” ujarnya dalam keterangannya, Kamis, 16 April 2026.
Ia menjelaskan, kondisi kemarau selanjutnya akan meluas secara bertahap ke wilayah tengah Kalteng pada awal Juni, kemudian menjangkau wilayah utara hingga pesisir pada pertengahan hingga akhir Juni.
“Pada dasarian I Juni akan meluas ke wilayah tengah, kemudian dasarian II Juni ke Barito Utara bagian utara dan sebagian Murung Raya bagian timur, hingga dasarian III Juni ke wilayah pesisir seperti Sukamara, Kotawaringin Barat, Seruyan, dan Kotawaringin Timur,” jelasnya.
Lian menambahkan, selama April hingga Mei, wilayah Kalteng masih berada pada masa peralihan musim atau pancaroba yang ditandai dengan kondisi cuaca tidak menentu.
“Pada masa peralihan ini, perlu diwaspadai potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, puting beliung, hingga hujan disertai petir,” katanya.
BMKG juga memprediksi adanya potensi fenomena El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat pada semester kedua 2026, dengan peluang sekitar 50 hingga 60 persen.
Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan musim kemarau lebih panjang, curah hujan menurun, serta suhu udara meningkat di sebagian besar wilayah, termasuk Kalteng.
“Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus, seiring dengan potensi El Nino yang dapat membuat suhu udara lebih panas dan kondisi lebih kering,” ungkapnya.
Dengan kondisi tersebut, risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga diperkirakan meningkat. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan serta tetap menjaga kesehatan di tengah cuaca panas.
“Masyarakat juga diminta tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem selama masa peralihan hingga memasuki musim kemarau,” pungkasnya.
(Sya'ban)












