Dampak BBM Naik, Sopir Kelotok Sungai Mentaya Keluhkan Penghasilan Menyusut

NARDI/BERITASAMPIT - Aktivitas perahu kelotok mengangkut penumpang di Sungai Mentaya dengan biaya operasional yang meningkat.

SAMPIT – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai dirasakan para sopir perahu kelotok di Kecamatan Seranau, Kabupaten Timur (Kotim) Jumat 24 April 2026. Biaya operasional yang meningkat membuat pendapatan mereka kian tergerus.

Transportasi sungai masih menjadi andalan masyarakat di wilayah tersebut, terutama bagi warga yang tinggal di seberang Sungai Mentaya. Namun, kondisi ini kini dihadapkan pada persoalan baru akibat mahalnya harga bahan bakar.

Salah satu sopir kelotok, Indra mengungkapkan kesulitan mendapatkan solar subsidi. Ia tidak memungkinkan membawa perahunya langsung ke SPBU, sementara pembelian menggunakan jerigen juga dibatasi.

“Kalau bawa kelotok ke SPBU tidak mungkin. Beli pakai jerigen juga tidak boleh, jadi terpaksa beli ke pengecer,” ujarnya.

Menurutnya, harga solar yang didapat dari pengecer jauh lebih mahal. Jika sebelumnya lima liter solar cukup dengan Rp50 ribu, kini harus merogoh kocek hingga Rp120 ribu untuk jumlah yang sama.

“Dulu Rp50 ribu dapat lima liter, sekarang bisa sampai Rp120 ribu,” jelasnya.

Kenaikan biaya bahan bakar ini berdampak langsung pada penghasilan. Pendapatan harian yang sebelumnya bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp150 ribu, kini turun menjadi sekitar Rp70 ribu sampai Rp80 ribu.

“Biasanya dapat Rp100 ribu sampai Rp150 ribu sehari. Sekarang paling Rp70 ribu sampai Rp80 ribu. Kerja dari sore sampai malam,” katanya.

Ia menambahkan, tarif penyeberangan tetap dipertahankan demi mempertimbangkan kondisi ekonomi penumpang. Untuk sekali menyeberang, tarif masih Rp5 ribu per orang, sedangkan jasa susur sungai dipatok sekitar Rp150 ribu hingga tujuan bandara.

Meski penghasilan menurun, Adri memilih tidak menaikkan tarif. Sebagai alternatif, ia kini menunggu jumlah penumpang lebih banyak sebelum berangkat agar penggunaan bahan bakar lebih efisien.

“Sekarang tunggu penumpang ramai dulu, misalnya lima atau enam orang baru jalan. Kalau cuma satu orang bisa rugi,” tutupnya. (Nardi)

baca juga ...  Dinsos Kotim Tindaklanjut Kasus Viral Ibu dengan Tiga Anak
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!