Rupiah Melemah, DPRD Kotim Tegaskan Harus Ada Solusi Pemerintah Pusat ke Daerah

NARDI/BERITASAMPIT - Anggota Komisi II DPRD Kotim, Hendra Sia.

SAMPIT – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang menyentuh kisaran Rp 17.500 mulai menimbulkan kekhawatiran, termasuk di Kabupaten Timur (Kotim). Kondisi tersebut dinilai dapat berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat, terutama naiknya harga kebutuhan pokok dan biaya distribusi barang.

Anggota Komisi II DPRD Kotim, Hendra Sia, meminta pemerintah pusat segera mengambil langkah konkret agar pelemahan rupiah tidak semakin dalam. Menurutnya, stabilitas ekonomi harus dijaga melalui kebijakan yang tepat tanpa membebani cadangan devisa negara.

Ia menilai dampak anjloknya rupiah bukan hanya dirasakan pada sektor ekonomi , namun juga mulai menyentuh kehidupan masyarakat daerah. Kenaikan harga barang dinilai menjadi efek paling cepat dirasakan warga.

“Kalau rupiah melemah otomatis harga barang ikut naik. Mulai dari bahan impor, biaya logistik, sampai kebutuhan sehari-hari masyarakat,” ujarnya, Rabu 13 Mei 2026.

Menurut Hendra, kondisi tersebut juga berimbas pada berbagai kebutuhan masyarakat di Kotim yang sebagian besar masih dipasok dari luar daerah terlebih dengan adanya kenaikan harga BBM, dan berdampak ke sektor lain seperti pupuk, oli, suku cadang kendaraan hingga sembako.

Ia juga menyoroti harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit milik masyarakat yang hingga kini masih belum stabil. Padahal, sektor perkebunan sawit menjadi salah satu penopang utama ekonomi warga di Kotim.

“Harga kebutuhan naik, sementara harga TBS belum stabil. Kondisi ini tentu membuat daya beli masyarakat semakin berat,” katanya.

Hendra menambahkan, masyarakat di wilayah pelosok Kotim menjadi pihak yang paling merasakan dampak ekonomi saat ini, terutama terkait sulitnya mendapatkan BBM dengan harga normal.

Menurutnya, di sejumlah daerah pedalaman warga harus membeli BBM dengan harga jauh lebih mahal dibanding harga resmi. Bahkan untuk jenis Pertamax, harganya disebut bisa mencapai Rp30 ribu per liter.

“Ini yang paling memprihatinkan. Masyarakat di pelosok masih kesulitan mendapatkan BBM, kalaupun ada harganya sangat mahal,” ungkapnya.

Ia meminta pemerintah daerah bersama Pertamina mencari solusi agar distribusi BBM ke wilayah pedalaman bisa lebih mudah dijangkau masyarakat.

Selain itu, Hendra berharap Pemerintah Kabupaten Kotim dapat memperkuat ketahanan pangan lokal dan memberikan dukungan kepada pelaku UMKM agar tetap mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi saat ini.

“Kita berharap pemerintah pusat segera menstabilkan rupiah. Untuk daerah, penting juga memperkuat ketahanan pangan dan mendukung UMKM supaya roda ekonomi masyarakat tetap berjalan,” tegas Politisi Perindo ini. (Nardi)

baca juga ...  Komisi IV DPR Minta Pemerintah Naikkan Harga Ayam Potong Sesuai HPP

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!