Drainase Tertutup Bangunan, Banjir Kota Sampit Sulit Teratasi

NARDI/BERITASAMPIT - Pemkab Kotim saat menggelar gotong royong bersihkan drainase.

SAMPIT – Banjir yang beberapa kali menggenangi kawasan perkotaan di Kabupaten Timur (Kotim) dalam beberapa pekan terakhir menjadi perhatian pemerintah daerah. Curah hujan yang tinggi saat musim pancaroba memang menjadi faktor utama, namun persoalan drainase dan rendahnya kepedulian terhadap lingkungan turut memperparah kondisi tersebut.

Ketua DPRD Kotim, Rimbun, menilai penanganan banjir memerlukan kerja sama semua pihak. Menurutnya, pemerintah daerah terus berupaya melakukan normalisasi dan pembersihan drainase, tetapi berbagai kendala di lapangan masih sering ditemui.

“Yang pasti perlu sinergi antara pemerintah daerah, stakeholder, dan masyarakat. Karena ketika pemerintah melakukan pembersihan drainase, ada juga masyarakat yang keberatan,” ujarnya, Jumat 22 Mei 2026.

Ia mengungkapkan, salah satu persoalan yang kerap menghambat normalisasi saluran air adalah keberadaan bangunan yang berdiri tepat di atas drainase. Kondisi tersebut membuat petugas kesulitan membersihkan maupun memperbaiki saluran yang mengalami penyumbatan.

“Ada warung-warung atau bangunan yang berdiri di atas drainase. Ketika ingin dibuka untuk normalisasi, ada yang menolak bahkan meminta ganti rugi kalau bangunannya rusak,” katanya.

Menurut Rimbun, saluran yang tertutup bangunan berpotensi menghambat aliran air sehingga saat hujan deras terjadi genangan di jalan maupun kawasan permukiman. Karena itu, pembenahan drainase harus mendapat dukungan dari masyarakat agar hasilnya maksimal.

“Kalau saluran air tertutup dan tidak bisa dibersihkan, otomatis air tidak mengalir dengan baik dan akhirnya meluap ke jalan maupun permukiman,” tegasnya.

Ia menambahkan, upaya mengatasi banjir tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah daerah.

Kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan juga menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko genangan.

“Pemerintah pasti akan memaksimalkan pelayanan, tetapi masyarakat juga harus ikut menjaga lingkungan dan mendukung kebijakan pemerintah,” ucapnya.

Rimbun mengajak warga membiasakan kegiatan gotong royong membersihkan drainase di lingkungan masing-masing. Langkah sederhana tersebut dinilai mampu mencegah penyumbatan saluran air saat curah hujan tinggi.

“Jangan sampai drainase penuh sampah lalu pemerintah yang terus disalahkan. Kita semua punya tanggung jawab menjaga lingkungan,” katanya.

Ia menyebut sejumlah titik yang kerap terdampak banjir berada di kawasan Baamang hingga sepanjang Jalan Cilik Riwut. Di wilayah tersebut masih ditemukan drainase yang tertutup bangunan maupun mengalami penyempitan sehingga aliran air tidak berjalan optimal.

“Terutama di kawasan Cilik Riwut dan beberapa titik lainnya yang drainasenya tertutup bangunan,” ungkapnya.

Selain banjir di kawasan perkotaan, Rimbun juga menyoroti banjir yang terjadi di wilayah hulu Kotim. Menurutnya, kondisi itu dipengaruhi meningkatnya debit air dari dua aliran sungai yang bertemu sehingga menyebabkan ketinggian air naik cukup signifikan.

“Kalau di daerah hulu itu air naik sampai 50 sampai 70 sentimeter karena ada pertemuan debit dua sungai,” pungkasnya. (Nardi)



baca juga ...  2.130 Penumpang Arus Balik Tiba di Pelabuhan Sampit
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!